Berita Bangli

Warga Keluhkan Puskesmas Pembantu Desa Suter Kintamani Tidak Tersedia Alat Medis dan Obat

Warga Keluhkan Pustu Tidak Tersedia Alat Medis dan Obat, Kepala Puskesmas: Pasien menolak untuk dirujuk ke puskesmas

ist
Puskesmas Pembantu Desa Suter, Kintamani 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Seorang warganet mengeluhkan pelayanan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Suter, Kintamani. Keluhan tersebut disampaikan melalui media sosial Layanan Pengaduan 24 Jam Pemkab Bangli Era Baru, Senin (5/12/2022).

Melalui akun media sosial bernama Semeton Suter, warganet mengeluhkan tidak adanya peralatan medis dan minim obat- obatan saat ia mengantar keluarganya ber obat ke Pustu Desa Suter, berdasarkan keterangan petugas.

Akibatnya ia harus ber obat ke Bidan Praktik Swasta yang berjarak 1 meter. Alhasil uang yang seharusnya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, harus habis untuk ber obat. "Apakah memang pihak terkait tidak mensuplai peralatan dan obat- obatan? Mohon agar bisa segera ditindaklanjuti. Kami masyarakat kecil merasa perlu obat gratis," ujar warganet yang mengaku bernama Adit asal Suter, Kintamani.

Diketahui Pustu Desa Suter merupakan wilayah Puskesmas Kintamani IV. Terkait adanya keluhan tersebut, Kepala Puskesmas, Ida Bagus Putra Suryadi menjelaskan pasien tersebut datang ke Pustu pada hari Sabtu (3/12/2022). Ia datang dengan maksud untuk lepas-pasang implan KB.

Dikatakan untuk pelayanan tersebut harus dilakukan di Puskesmas, bukan di Pustu. Kebetulan hari Sabtu pihaknya dan satu dokter ada di Puskesmas. "Tyang sudah koordinasi dengan bidan desa yang kebetulan bertugas di sana. Tapi pasien menolak untuk dirujuk ke puskesmas," ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, pelayanan lepas-pasang implan KB ada proses pembedahan dan memiliki resiko infeksi. Sehingga membutuhkan lidokain ( obat bius) dan antibiotik. Sesuai dengan aturan Kemenkes, di puskesmas Pembantu memang tidak diperbolehkan ada antibiotik. Sebab yang bertugas di Pustu adalah Bidan. 

"Antibiotik dan bius tidak tersedia di sana (Pustu). Karena memang syarat atau aturannya, antibiotik hanya boleh dikeluarkan dengan resep dokter. Terlebih kalau minum antibiotik tidak sesuai dengan aturan, akan beresiko terhadap peng obatan kedepannya dari dokter," jelas dia.

Mantan Kepala Puskesmas Kintamani V ini menambahkan, pada perinsipnya Pustu sama dengan puskesmas, namun dengan lingkup lebih kecil. Yakni hanya mewilayahi desa. 

Disamping itu Pustu bisa menjalankan pelayanan kesehatan. Tetapi tanpa pemberian antibiotik. "Kalau batuk/pilek bisa dilayani. Begitupun program-program kontrol ibu hamil juga bisa. Cuma untuk peng obatan tertentu yang menggunakan antibiotik wajib diresepkan oleh dokter," tegasnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Bangli, I Nyoman Arsana saat dikonfrimasi terpisah juga menyebut jika pada hari Sabtu lalu, pasien dan keluarganya menolak untuk dirujuk ke Puskesmas Kintamani IV, dan hanya mau dilayani di Pustu. Kendati demikian pada hari Senin (5/12/2022) dokter sudah mendatangi Pustu, dan pasien bersangkutan sudah terlayani oleh dokter. 

"Kami tidak tahu apa alasan masyarakat tidak mau dirujuk ke Puskesmas. Karena kalau dilihat dari sisi jarak, antara Pustu Desa Suter dengan Puskesmas Kintamani IV jaraknya sekitar 6 kilometer. Namun kami tetap hargai masyarakat, dengan mendatangkan dokter ke Pustu," tandasnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved