Berita Denpasar

Komisi Penyiaran Indonesia Tegaskan Pembentukan Stasiun Televisi Baru Harus Sesuai Dengan MKK

Komisi Penyiaran Indonesia Tegaskan Pembentukan Stasiun Televisi Baru Harus Sesuai Dengan MKK

Tribun Bali/Ida Bagus Putu Mahendra
Ketua KPI Pusat, Agung Suprio. Sebut MKK jadi syarat pendirian stasiun televisi. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI Pusat) berikan penjelasannya soal pembentukan stasiun televisi baru.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua KPI Pusat, Agung Suprio saat ditemui Tribun Bali usai acara diseminasi MKK (Minat Kepentingan dan Kenyamanan Publik) di Universitas Udayana pada Rabu 7 Desember 2022.

Agung Suprio menuturkan, pembentukan stasiun televisi baru harus sesuai dengan MKK yang telah ditetapkan oleh KPI.

Ia menegaskan, jika stasiun televisi baru tersebut tidak sesuai dengan MKK, maka stasiun tersebut tidak dapat berdiri.

Nantinya, KPI disebut akan berkoordinasi dengan Kemenkominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika) soal izin pendirian stasiun televisi baru.

“Harapan kami adalah, tv-tv yang akan berdiri nantinya, itu harus sama dengan MKK (Minat Kepentingan dan Kenyamanan Publik) yang sudah dibuat indeksnya. Jadi tidak lagi abstrak, sudah betul-betul konkrit sehingga bisa diterapkan oleh tv.”

“Kalau tv nggak sesuai dengan MKK, maka dia harus menyesuaikan. Dia tidak bisa berdiri. Kami akan berkoordinasi dengan Kemekominfo untuk kemudian persyaratan izin tv baru adalah sesuai dengan MKK,” ungkap Agung Suprio, Ketua KPI Pusat.

Lebih lanjut, Agung Suprio menjelaskan, MKK berfungsi untuk mengetahui minat kepentingan dan kenyamanan publik terhadap tayangan televisi.

Pembentukan indeks MKK melibatkan sejumlah universitas ternama di Indonesia. Seperti misalnya Universitas Padjadjaran, Universitas Udayana, dan Universitas Gorontalo.

“Ya diseminasi MKK ini sudah berlangsung selama setahun, jadi melibatkan berbagai univeristas di indonesia diantaranya Unpad (Universitas Padjadjaran), Universitas Gorontal, dan Udayana (Universitas Udayana).”

“Fungsinya adalah kita membuat MKK, ingin mengetahui sejauh mana masyarakat itu dalam melihat tv nyamannya, dan apakah aspirasi atau kepentingannya tersalurkan lewat tayangan-tayangan televisi,” tambah Agung Suprio saat ditemui Tribun Bali di Universitas Udayana.

Berdasarkan hasil diseminasi MKK yang digarap oleh sejumlah pakar, mayoritas penonton televisi masih didominasi oleh kaum milenial.

Sehingga, tayangan pada televisi diharapkan sesuai dengan minat kepentingan dan kenyamanan kaum milenial.

“Yang pertama kalu kita lihat, publik itu kan penonton. Kalau kita lihat demografi populasi atau karakteristik, maka mayoritas penonton itu adalah kalangan muda, generasi Z, dan milenial.”

“Oleh karenanya, tayangan-tayangan di televisi harus mendekat pada mayoritas populasi atau penonton. Ini yang dibuat indeksnya oleh para professor, dan doktor,” pungkas Agung Suprio saat ditemui Tribun Bali usai Diseminasi MKK di Universitas Udayana pada Rabu 7 Desember 2022.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved