Berita Denpasar

Mulai Tersedia Kembali, Masyarakat Harus Beli 10 Persen Dexlite Saat Membeli Solar

Mulai Tersedia Kembali, Masyarakat Harus Beli 10 Persen Dexlite Saat Membeli Solar

Tribun Bali/ I Made Ardhiangga Ismayana
Antrean truk nampak mengular di Jalan Bypass Ir Soekarno, Senin 5 Desember 2022. 

TRIBUN BALI.COM, DENPASAR - Ketersediaan Solar pasca mengalami kelangkaan kini mulai tersedia kembali. Sebelumnya Organda (Organisasi Angkutan Darat) Bali juga telah bersurat ke Kementerian Perhubungan untuk mengantensi hal ini.

Ketika dikonfirmasi, Ketua Organda Bali, Ketut Eddy Dharma Putra, mengatakan kini ketersediaan solar dapat dikatakan sudah aman namun, bagi pengendara yang akan membeli solar, dari jumlah solar yang dibeli 10 persennya harus dibelikan BBM jenis Dexlite

“Ketersediaanya perhari ini sepertinya mulai aman. Cuman ada kewajiban harus beli dexlite 10 persen ya, daripada tidak ada. Jadi umpamanya kita beli 100 liter ya 10 liternya kita belikan dexlitenya. Intinya 10 persen dari kita beli solar. Harga dexlite Rp. 18.300 ribu sekarang perliter kalau solar subsidi kan Rp.5.150 ribu,” jelasnya pada, Jumat 9 Desember 2022. 

Tentunya menanggapi hal ini, mau tidak mau para pengusaha mengikuti aturan tersebut daripada tidak mendapatkan BBM Solar sama sekali. Untuk BBM jenis Dexlite sendiri tidak disubsidi oleh pemerintah maka dari itu harganya cukup mahal perliternya. 

“Untuk hari ini hampir ada kelancaran dan informasi dari teman-teman di Tabanan, Jembrana tidak masalah. Angkutan antar Provinsi seperti Gunung Harta sudah lancar. Yang kita khawatirkan itu di pintu masuk Gilimanuk yang kosong,” imbuhnya. 

Dan melihat tidak ada keluhan dari anggota Organda hari ini, artinya kebutuhan solar sudah terpenuhi. Sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan solar karena sempat langka, pihaknya pun sempat berkomunikasi dengan Dinas Perhubungan dimana Dishub selanjutnya sudah berkoordinasi dengan Migas. Dan melalui organisasi DPP Organda, juga sudah berkoordinasi dengan Migas di Jakarta Pusat. 

“Dan baru kemarin ini antrian agak berkurang dan hari ini sudah normal. Dan jika kondisi ini berlangsung lagi, kita mengimbau ke Pertamina karena Bali menjadi tujuan pariwisata dan transportasi merupkan urat nadi perekonomian. Kalau terganggu ya otomatis kegiatan perekonomian terganggu,” tutupnya. (*) 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved