Vaksinasi Anti Rabies

Dinas Pertanian Buleleng Lakukan Vaksinasi Anti Rabies, 70 Persen Anjing Ditargetkan Tervaksin

Dinas Pertanian Buleleng Lakukan Vaksinasi Anti Rabies, 70 Persen Anjing Ditargetkan Tervaksin Bulan Ini

Ratu Ayu Astri Desiani
Petugas kesehatan hewan Dinas Pertanian Buleleng saat melakukan vakasinasi anti rabies beberapa waktu lalu 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Dinas Pertanian Buleleng pada Desember ini gencar melaksanakan vaksinasi anti rabies (VAR). Vaksinasi gencar dilakukan lantaran angka kasus gigitan anjing dan kematian suspek rabies cukup tinggi. Ada ribuan ekor anjing yang akan dijadikan sebagai target vaksinasi. 

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Made Sumiarta ditemui Senin (12/12) mengatakan, vaksinasi saat ini fokus dilakukan di tujuh desa yang ada di wilayah Kecamatan Gerokgak dengan menurunkan dua tim. Skema vaksinasi mirip dengan PMK, dimana petugas mendatangi satu per satu rumah warga yang memelihara hewan penular rabies seperti anjing

Sumiarta menyebut, Kecamatam Gerokgak dipilih sebagai lokasi utama pelaksanakan VAR sebab wilayahnya cukup luas, dan masuk dalam zona gigitan. Tercatat dari 148 desa yang ada di Buleleng, 80 diantaranya dinyatakan masuk dalam zona kasus gigitan anjing

"Ya sebelumnya memang kami fokus penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Vaksinasi PMK sudah 100 persen kami laksanakan.   Mulai kemarin kami fokus dirabies, kami sudah skemakan bagaimana melakukan penanggulangan secara maksimal. Penanganannya sama seperti skema PMK," terangnya. 

Vaksinasi ini pun ditargetkan bisa menyasar 70 persen dari total 82 ekor populasi anjing di Buleleng, hingga akhir Desember nanti. Dimana VAR yang akan digunakan berasal dari pengadaan yang dilakukan oleh Pemkab Buleleng, serta bantuan dari Pemprov Bali. 

Selain gencar melaksanakan VAR, pihaknya juga telah bersurat ke Dinas PMD Buleleng, agar membuat Peraturan Desa (Perdes) terkait penanggulangan rabies. Dalam waktu dekat pihaknya akan menggelar pertemuan untuk membahas pembuatan Perdes tersebut. 

Sementara eliminasi tertarget, Sumiarta menyebut telah mengambil langkah tersebut sejak dulu, untuk mengatasi kasus rabies di Buleleng. Namun banyak penolakan yang dilakukan oleh warga. Padahal eliminasi tidak dilakukan sembarangan. Eliminasi hanya menyasar pada anjing yang ditengarai suspek rabies. "Ya wajar masyarakat menolak, karena dari segi KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) belum maksimal. Nanti dengan adanya KIE kepada masyarakat, kami akan jelaskan eliminasi tidak sembarangan dilakukan," tandasnya. 

Seperti diketahui, sejak Januari hingga November ada 12 kasus kematian suspek rabies yang terjadi di Buleleng. Kasus terakhir menimpa seorang warga berusia 35 tahun asal Desa Patas, Kecamatan Gerokgak. Sementara kasus gigitan anjing, menurut data dari Dinas Pertanian Buleleng sejak Januari hingga November mencapai 6.686 kasus. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved