Penglipuran Village Festival

Penglipuran Village Festival IX 2022, Desa Penglipuran Gelar Tradisi Megibung Di Rurung

desa Penglipuran ditampilkan dalam serangkaian Penglipuran Village Festival (PVF) IX tahun 2022. Salah satunya tradisi megibung di rerung.

Muhammad Fredey Mercury
Penglipuran Village Festival IX 2022, Desa Penglipuran Gelar Tradisi Megibung Di Rerung 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Beragam kegiatan adat atau tradisi kearifan lokal yang menjadi ciri khas di Desa Penglipuran ditampilkan dalam serangkaian Penglipuran Village Festival (PVF) IX tahun 2022. Salah satunya tradisi megibung di rurung.

megibung merupakan merupakan tradisi makan bersama masyarakat desa Penglipuran yang sampai saat ini masih tetap dipertahankan. Tradisi ini dilaksanakan di jalan utama, tepatnya dari jaba pura hingga perempatan wantilan. Tradisi ini digelar hari Senin (12/12/2022) sore.

Turut hadir saat itu, Wabup I Wayan Diar didampingi para Prajuru Adat serta para pemuka agama Desa Penglipuran. Saat itu, Wabup Diar menikmati santap malam megibung, dengan menu nasi, lawar dan sate lilit olahan warga setempat. 

Kelian Banjar Adat Penglipuran I Wayan Agustina menyampaikan, dimasukkannya megibung dalam rangkaian PVF IX tujuannya sebagai bentuk pelestarian budaya warisan leluhur. "Tahun ini menjadi spesial karena kegiatan megibung untuk pertama kalinya dimasukan dalam agenda penglipuran Village Festival," ungkapnya.

Suasana megibung di rerung di jalur utama Desa Penglipuran. Senin (12/12/2022)
Suasana megibung di rerung di jalur utama Desa Penglipuran. Senin (12/12/2022)

Pihaknya menjelaskan, megibung biasanya dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Bali saat pelaksanaan upacara adat. Misalnya seperti upacara Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, Rsi Yadnya dan upacara adat lainnya. Ada beberapa etika yang perlu diperhatikan saat acara megibung. Mulai dari mencuci tangan sebelum makan, tidak menjatuhkan sisa makanan dari suapan, tidak mengambil makanan disebelah, jika salah satu sudah merasa puas dan kenyang dilarang meninggalkan temannya. Walaupun aturan ini tidak tertulis tapi masih diikuti peserta makan megibung. "Di Desa Penglipuran sendiri, acara megibung sudah dilakukan dari zaman dahulu," ucapnya.

Wayan Agustina menambahkan, masuknya megibung dalam PVF IX diharapkan pula bisa mengedukasi generasi muda dalam pelestarian budaya dan kearifan lokal, serta memupuk rasa persatuan dan kebersamaan antar warga. "Ini juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada alam semesta serta kepada Tuhan atas kelimpahan berkah yang telah diberikan, sebagai implementasi dari konsep Tri Hita Karana," imbuhnya.

Sementara itu Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, pada kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi kepada Warga Desa Penglipuran, karena setiap tahunnya  telah sukses menyelenggarakan event Penglipuran Village Festival. Pihaknya juga salut pada Desa Penglipuran, karena walaupun sudah dikenal wisatawan Internasional, namun masih tetap mempertahankan budaya dan kearifan lokalnya. 

Terkait acara megibung, Wabup Diar berharap agar kegiatan tersebut dapat dipertahankan. Sebab, filosofi yang terkandung di dalamnya adalah konsep kebersamaan yang tidak memandang status sosial dan ekonomi, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. 

"Pemerintah Kabupaten Bangli akan selalu mendukung upaya-upaya pelestarian budaya seperti ini. Harapan kami acara megibung ini bisa menjadi media promosi yang dapat menarik lebih banyak lagi minat wisatawan untuk berkunjung ke Desa Wisata Penglipuran," ungkapnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved