Breaking News:

Cuaca Ekstrem di Bali

Abrasi Pantai Kuta, Bali Kian Parah Pasca Gelombang Tinggi Dampak Cuaca Ekstrem

Abrasi di Pantai Kuta, Bali kian parah pasca terjadinya gelombang tinggi dampak dari cuaca ekstrem yang baru-baru ini terjadi di Bali.

Kompas.com/ Imam Rosidin
Ilustrasi abrasi di Pantai Kuta tahun 2021 - Abrasi di Pantai Kuta, Bali kian parah pasca terjadinya gelombang tinggi dampak dari cuaca ekstrem yang baru-baru ini terjadi di Bali. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Kondisi abrasi Pantai Kuta semakin parah sekarang bahkan sejumlah pohon perindang roboh dampak gelombang tinggi dari cuaca ekstrem.

Ketua Satgas Pantai Kuta, I Wayan Sirna menyampaikan dari awal penataan pada tahun 2005 saat itu penambahan pasir hingga mencapai 30 meteran ke bibir pantai. 

Namun akibat abrasi yang terjadi hingga tahun 2022 ini, kondisi daratan hampir habis. 

“Dulu waktu penataan tahun 2005, penambahan pasir hampir mencapai 30 meter sampai bibir pantai. Namun saat ini korban puluhan pohon kelapa dan pohon perindang habis tergerus ombak. Di sepanjang pantai kondisi abrasi parah sekali," kata Wayan Sirna, Senin 26 Desember 2022.

Pantai Kuta memiliki bentang pantai sepanjang 4 kilometer dari ujung landasan bandara hingga perbatasan Legian, menurutnya kondisi abrasinya kini sangat parah. 

Hampir 30 meter lebar pantai hingga bibir pantai yang dulu ditata dengan penambahan pasir perlahan-lahan hingga kini habis terkikis tombak.

Ia berharap penanganan segera dilakukan karena apabila kondisi ini dibiarkan dikhawatirkan abrasi akan menyentuh bangunan satgas pantai.

“Biasanya kalau pas gelombang tinggi di musim-musim tertentu. Air laut naik hingga mencapai jalan raya. Kami khawatir bisa menggerus bangunan satgas," ungkapnya.

Lebih lanjut Wayan Sirna mengatakan kondisi ini memang musiman terjadi dan tidak bisa dihindari. 

Baca juga: PHRI Sambut Baik Event Pergantian Tahun di Pantai Kuta, Berharap Bisa Tingkatkan Jumlah Kunjungan

Dalam setahun pasti beberapa kali terjadi kondisi gelombang tinggi namun, cuaca ekstrim kali ini mengakibatkan pasir semakin terkikis. 

Bahkan sejumlah lapak pedagang atau gerobak kayu yang disiapkan untuk pedagang pantai sempat tergerus air laut. 

Untuk itu pihaknya telah mengimbau para pedagang yang mana selama dua hari terakhir mereka terpaksa tidak berjualan, akibat cuaca ekstrim. 

“Waktu ini dua hari para pedagang tidak berjualan karena anginnya terlalu kencang," tambahnya.

(*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved