Berita Bali
Border Internasional China Dibuka, Dinilai Dapat Bangkitkan Pariwisata Bali
Border Internasional China yang sudah dibuka, tentunya membawa angin segar bagi Pulau Dewata.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN BALI.COM, DENPASAR - Border Internasional China yang sudah dibuka, tentunya membawa angin segar bagi Pulau Dewata. Hal tersebut disampaikan oleh, Praktisi Perencana Keuangan sekaligus Direktur Sekolah Pascasarjana Undiknas, Prof. Ir. Gede Sri Darma pada, Senin 2 Januari 2023.
“Pastinya saya yakin karena memang sebelum Covid-19, China menjadi Negara paling tinggi di Bali setelah Jepang dan beberapa Negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura,” katanya.
Lebih lanjutnya ia juga menerangkan, sementara untuk Eropa saat ini sedang alami krisis yang luar biasa, dimana tingkat inflasinya sangat tinggi bahkan beberapa negara Amerika Latin alami dua digit inflasi dan daya beli mereka sangat kurang. Namun, Prof. Sri melihat geliat perekonomian China sangat luar biasa dan begitu tinggi.
“Dan daya belinya bagus dan mereka selama ini lockdown oleh Negaranya sendiri maka mereka akan jalan-jalan. Dan pilihannya Bali karena dianggap murah oleh mereka. Itu yang sebabkan Bali akan dikunjungi dengan catatan mereka datang tidak membawa virus dan bali aman-aman saja dari kesehatan karena tingkat vaksin sangat tinggi dan semoga saja tidak terjadi endemi di Bali,” imbuhnya.
Menurutnya status endemi untuk Covid-19 di Bali juga dianggap berbahaya. Selain itu destinasi pariwisata di Bali juga harus berubah dan harus ditambah selain budaya. Yang dikenal selama ini wisatawan juga datang untuk refreshing tempat wisata sehingga harus dikemas lebih kreatif dan inovatif.
“Di Bali ini nature, alami makanya dikemasnya harus bagus dalam rangka berikan vibrasi positif untuk wisatawan,” ucapnya.
Dan menurutnya geliat ekonomi Bali kuat dan fundamental ekonomi di Bali sudah bagus terlebih terbebas dari urusan inflasi maka dari itu diharapkan Bali jauh dari krisis energi dan pangan. Kecuali Perang Dunia antara Rusia dan Ukraina semakin berat, maka tentunya Indonesia khususnya Bali akan berdampak. Namun jika Bali pada sektor pertanian dan produksi sudah bagus serta import tidak lagi bergantung pada Negara lain maka kondisi tersebut dapat terlewati.
“Tetapi kalau pangan kita hancur karena cuaca dan semua pangan yang ditanam oleh para petani mengalami musibah akibat hujan dan cuaca yang tidak bersahabat mungkin kita akan mengalami krisis pangan. Kalau energi semoga tidak karena kita sudah ada energi terbarukan yang diciptakan BUMN kita,” paparnya.
“Ya saya optimis sangat mungkin banget Bali menjadi booming kembali dan tingkat ekonomi diatas 5 persen dengan syarat tidak ada hal diluar kendali. Dan semoga tidak ada gejolak lain misalnya karena politik dan lain-lain,” tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Praktisi-Perencana-Keuangan-sekaligus-Direktur-Sekolah-Pascasarjana-Undiknas.jpg)