Berita Bali

Lahan Pertanian Akan Dikavling, Pekaseh Subak Pedahan Angantaka Mesadu ke DPRD Provinsi Bali 

Petani dan Kepala Subak (Pekaseh) Angantaka dan Jagapati Badung 'mesadu' (mengadu) ke DPRD Provinsi Bali terkait tanah yang akan dikavling.

Tribun Bali/Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Petani dan Kepala Subak (Pekaseh) Angantaka dan Jagapati Badung 'mesadu' (mengadu) pada DPRD Provinsi Bali Kamis 19 Januari 2023. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Petani dan Kepala Subak (Pekaseh) Angantaka dan Jagapati Badung 'mesadu' (mengadu) ke DPRD Provinsi Bali Kamis 19 Januari 2023.

Pengaduan tersebut terkait wilayah subak yang akan menjadi tanah kavling untuk perumahan.

Pekaseh Subak Pedahan Angantaka, Wayan Sari Merta mengatakan hasil dari pertemuannya dengan DPRD Provinsi Bali belum ada hasilnya. 

Baca juga: Harga Rumah Subsidi Rp 168 Juta, DPD REI Bali Harap Harga Jual Tembus Rp 200 Juta di Pusat Kota


"Sementara niki (ini) kan belum ada hasil ya katanya akan diserahkan ke Kabupaten Badung yang kami harapkan masalah ini cepat selesai. Kami juga berterima kasih pada DPRD Provinsi Bali yang sudah merespons aspirasi dan pengaduan kami," jelasnya. 


Sementara itu jumlah luas subak di Desa Angantaka dan Jagapati sebanyak 84 hektar yang menjadi 4 munduk atau kelompok.

Yakni Munduk Pedahan, Puaji, Kecing dan Babakan. Yang para petani khawatirkan kalau sampai beberapa subak ini dijadikan tanah kavling maka ke depannya dikhawatirkan akan semakin meluas dan merembet. 

Baca juga: Bangkai Paus Dengan Panjang Sekitar 9 Meter Terdampar di Pantai Munggu Mengwi Badung Bali


"Karena ini tempat kami mencari nafkah di wilayah kami di Desa Angantaka dan Jagapati. Kalau ini sampai terjadi semua akan habis wilayah kami keempat munduk itu, di mana kami akan mencari pekerjaan? Seperti kemarin Covid-19, semua anak-anak muda sudah terjun ke tempat pertanian niki," sambungnya.  


Sementara penghasilan para petani dari subak tersebut dalam waktu satu bulan luas subak 1 hektar saja dihitung rata-rata sekitar Rp2-3 juta.

Baca juga: Kanwil Kemenkumham Bali Hadir Untuk Masyarakat Miskin Yang Berhadapan Dengan Hukum

Untuk masalah kepemilikan lahan ini juga dikatakan yang sudah melalui banyak tangan, di mana awalnya dimiliki oleh warga asli Angantaka kini menjadi warga Ubud, Gianyar. 


"Harapan kami menjadi lahan pangan pertanian berkelanjutan agar bisa tetap digarap lahan pertanian. Kalau di aturan kami di subak, kalau orang lokal baru bisa membangun itu Pararem (aturan) kami itu bukan saya yang buat aturan tapi semua petani sekitar Tahun 1980-an," paparnya. 

Baca juga: Liburan Telah Usai, Okupansi Hotel di Bali Turun Sampai 60 Persen


Ia pun menceritakan bagaimana awal dari permasalahan ini. Awalnya para petani didatangi oleh pengapling tersebut dan memberitahu bahwa salah satu pemilik tanah di Desa Angantaka yakni Made Adi Astawa akan menjadikan beberapa subak tanah kavling untuk perumahan baru. 


"Sudah tiga kali beliau datang dan menunjukkan dan tidak direspon lalu pihak pengapling ini membawa alat berat tanpa sepengatahuan kami dan kami lakukan pergerakan untuk membawa surat keberatan ke pihak-pihak dinas kabupaten Badung. Nama asli pengapling itu Made Adi Astawa orang dari Ubud," tutupnya. (*) 

 

 

Berita lainnya di Berita Badung

 

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved