Berita Karangasem
Harga Babi di Karangasem Merosot Perkilogramnya
Peternak babi di Kab. Karangasem mengeluh dikarenakan harga perkilogramnya merosot drastis.
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Fenty Lilian Ariani
AMLAPURA, TRIBUN-BALI.COM - Peternak babi di Kab. Karangasem mengeluh dikarenakan harga perkilogramnya merosot drastis.
Harga babi yang semula 35 ribu turun jadi 28 ribu perkilo. Artinya ad penurunan sekitar 7 ribu.
Harga babi turun secara bertahap dari September.
Kemungkinan akan terus berlanjut ke depan.
Nengah Sudarma, peternak rumahan asal Desa Abang, Kecamatan Abang, mengungkapkan, harga babi anjlok sejak dua bulan terakhir.
Penyebabnya diperkirakan karena kasus babi mati mendadak. Mengingat beberapa daerah ditemukan kasus babi mati mendadak. Gejalanya hampir sama. Tidak mau makan serta kejang
"Kemungkinan ini yang mempengaruhi. Sehingga sangat berpengaruh ke permintaan babi di Karangasem. Permintaan babi sedikit. Biasanya warga yang membeli bibit cukup banyak, sekarang mulai turun. Padahal harga bibit turun, dari 1 juta jadi 600 - 700 ribu. Itu bibit yang lepas induknya,"jelas Sudarma,Minggu (8/10/2023)
Turunnya permintaan babi kemungkinan lantaran harga pakan ternak naik.
Bayangkan, harga pakan babi jenis poral bisa tembus 215 ribu per karung, isi 40 kilogramnya.
Terkadang ada beberapa toko jual dengan harga 220 ribu.
Banyak peternak yang campur makanan dengan dag dag,berserta makanan jenis yang lainnya
"Banyak peternak yang mengeluh. Disisi lain harga babi turun, tapi pakan ternak meningkat. Kondisi ini membuat peternak kaget dengan naiknya harga pakan. Terutama yang ternak babi dengan jumlah banyak. Saya cuma ternak 7 ekor,"akui Darma
Pihaknya berharap harga babi dan pakan ternaknya kembali normal, sehingga peternak kembali beraktivitas. Mengingat ad beberapa peternak yang belum bisa berternak karena kondisi masih dianggap belum bersahabat.
Baca juga: Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Bali United: Spaso Cadangan, Kadek Arel Kembali Starter
"Saya termasuk rugi. Bibit babi yang dulu saya beli 1 juta, kini menurun jadi 600 - 700 ribu,"imbuh Sudarma.
"Saya selaku peternak rumahan tetap mengimbangi pakan ternak dengn jenis lain. Artinya bukan memakai poral saja, tetapi dicampur daun -daun. Seperti ketela rambat. Sedangkan poral hanya setengah. Apalagi sekarang babi sudah besar, sehingga butuh makanan banyak,"ungkapnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Peternak-babi-di-Desa-Kecamatan-Abang-sedang-memberi-makan-ternaknya-Minggu-8102023.jpg)