Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Tabanan

Produksi Cau Cokelat 2 Hingga Tiga Ton Perbulan

Industri cokelat terbilang sangat luar biasa. Sebab, import cokelat ke Indonesia itu mencapai Rp 1 triliun lebih

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Aloisius H Manggol
Tribun Bali/Angga
Alam Ganjar saat mengunjungi kebun Cau Cokelat dan melihat proses pembuatan cokelat di Desa Cau Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan, Senin 18 Desember 2023. 

 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Industri cokelat terbilang sangat luar biasa. Sebab, import cokelat ke Indonesia itu mencapai Rp 1 triliun lebih.

Berbanding terbalik dengan produksi kakao di Tabanan yang masih rendah. Hal ini disampaikan CEO Cau Cokelat, Kadek Surya Prasetya Wiguna, Senin 18 Desember 2023.

Hal ini dikarenakan, krisis bahan baku buah kakao. Dimana Cau Cokelat hanya bisa menyerap dua hingga tiga sampai lima ton per bulan buah kakao. Itu masih terbilang kecil dengan kapasitas produksi 500 kilogram per hari di pabrik di desa Cau Tabanan itu.

Baca juga: HARGA Bahan Dapur di Alfamart, Indomaret & Hypermart 19 Desember 2023: Sania Tep Terigu Rp13.700

“Saat ini serapan bahan baku cokelat terbesar masih dipegang oleh Jembrana, disusul Tabanan dan Buleleng. Bahkan, Jembrana akan membangun pabrik sendiri. Dan itu tidak masalah, karena hasil Petani kakao akan terserap semua,” ucapnya.

Menurut dia, ketersediaan bahan baku di Bali ini kecil. Untuk di Tabanan dengan kualitas yang baik kakao itu dihasilkan di kawasan Selemadeg raya.

Sampai-sampai, pihaknya akan berupaya mencari keluar, akan tetapi masih belum mendapat kualitas yang terbaik.

Baca juga: Promo Sembako di Indomaret, Alfamart dan Superindo 19-20 Desember 2023: Migor Barco 1L Rp28.500 Aja

Alhasil, sambungnya, bahwa saat ini pertempuran mendapat biji menjadi persoalan. Meskipun itu memang tidak menjadi masalah, karena memang hasil petani seluruhnya akan terserap.

“Kita berupaya membuka perkebunan. Yang bisa menghasilkan 1 hektare dengan hasil 1 hingga dua ton,” ungkapnya.

Minimnya lahan pertanian, lanjut dia, karena banyak warga yang lari ke sektor pariwisata. Padahal harapannya, petani Bali kembali, ke sektor kakao. Seperti tahun 80-an Dimana kakao menjadi primadona. Karena kekurangan bahan baku itu, pihaknya sampai mencari ke NTT, Kalimantan dan Sumatera. Namun, belum mendapatkan kualitas yang baik.

“Untuk produksi sekarang saja, untuk mangsa pasar di Bali saja habis. Apalagi untuk memenuhi pasar ekspor. Dan harga kakao non fermentasi sekarang itu meningkat drastis dari yang biasa Rp 30 ribu menjadi 60 ribu,” jelasnya.

Ia menambhakan, bahwa kedatangan Alam Ganjar itu bisa sebagai upaya untuk mengenalkan pertanian ke milenial dan gen z. Dan bahan baku dnegan kualitas tinggi bisa dihasilkan melimpah di Indonesia.

“Alam ini anak muda cerdas. Dan orang tekhnik industri di UGM kalau tifak salah. Dengan kedatangan ini, maka pengembangan pertanian di desa-desa, bisa dilakukan. Dengan dia melihat maka bisa menjadi inspirasi untuk dibuat di tempat lain di Indonesia,” ucap Surya. (ang).

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved