Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

bisnis

HARGA Rumah Baru Naik 2 Persen! di Denpasar Paling Melesat

Harga rumah baru di Indonesia, terus mengalami peningkatan. Denpasar menjadi salah satu kota dengan kenaikan harga tahunan tertinggi.

Tayang:
Pixabay
Ilustrasi rumah -Harga rumah baru di Indonesia, terus mengalami peningkatan. Denpasar menjadi salah satu kota dengan kenaikan harga tahunan tertinggi. 

TRIBUN-BALI.COM  - Harga rumah baru di Indonesia, terus mengalami peningkatan. Denpasar menjadi salah satu kota dengan kenaikan harga tahunan tertinggi.

Berdasarkan data Rumah123 Flash Report dan Indeks Harga Rumah Seken Rumah123, secara tahunan tren harga rumah di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 2 persen pada Juli 2024.  

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya menuturkan bahwa Denpasar menjadi kota yang mengalami kenaikan harga tahunan tertinggi yaitu sekitar 19,8 persen.

Kemudian diikuti oleh Bogor 8,5 persen dan Surakarta 6,2 persen. Sementara dari kawasan Jabodetabek, selain Bogor, ada dua kota yang mencatat kenaikan tipis untuk harga tahunan rumah baru, yakni Depok dengan kenaikan 1,9 persen dan Tangerang yang naik 1,6 persen.

Kemudian di Pulau Jawa, selain Surakarta, ada juga beberapa kota yang mengalami kenaikan harga tahunan, seperti Semarang 4,6 persen, Yogyakarta 3,8 persen, Surabaya 0,6 persen dan Bandung 0,5 persen.

Baca juga: Kawal Program Ulapan dan Jembatan Laplapan, Mangku Karda Siap Menangkan Aman

Baca juga: Arti Mimpi Danau, Mimpi Tenggelam di Danau Akan Datang Kabar Baik

"Di luar pulau Jawa, kenaikan harga tahunan tak hanya dialami Denpasar, Medan turut mencatat kenaikan tipis sebesar 0,6 persen," ujarnya dikutip dari keterangan resmi yang diterima Kontan, Senin (26/8).

Dari segi selisih antara pertumbuhan harga dengan pergerakan inflasi tahunan, terdapat 5 kota memperoleh selisih tertinggi, yaitu Bogor (6,1 persen), Semarang (2,8 persen), Yogyakarta (1,6 persen), Surakarta (4,3 persen), dan Denpasar (16,1 persen).  

Jumlahnya jauh lebih banyak jika dibandingkan bulan sebelumnya. Pada periode Juni lalu selisih pertumbuhan harga di atas laju inflasi tahunan hanya dialami 3 kota.

Menurut Marisa, hal ini mengindikasikan pertumbuhan Indeks Harga Rumah Seken secara tahunan yang cukup signifikan dibandingkan periode Januari hingga April lalu.

"Ini akan semakin berdampak positif pada kepemilikan atau investasi properti mengingat nilai properti yang meningkat lebih cepat daripada laju inflasi, sehingga akan memberikan potensi pertumbuhan nilai keuntungan yang lebih tinggi," ujarnya.

Sementara itu, harga rumah seken terus naik. Laporan Rumah123 Flash Report edisi Agustus 2024 menunjukkan kenaikan harga tahunan rumah seken di 13 kota besar Indonesia sebesar 2 persen.

Sebanyak 11 dari 13 kota dalam Indeks Harga Rumah Seken mengalami kenaikan harga bulanan rumah seken, dengan Surakarta atau Solo memimpin kenaikan tertinggi sebesar 6,3 persen. Sedangkan secara tahunan, kenaikan harga rumah seken secara konsisten masih dipegang Denpasar, yakni 19,8 persen.

Marisa menjelaskan, sejak bulan Agustus 2023 lalu, Rumah123 melihat Surakarta atau Solo mencatatkan pertumbuhan harga tahunan yang cukup konsisten hampir di setiap bulannya.

"Pertumbuhan tahunan tertinggi terjadi pada bulan November 2023 lalu, yakni sebesar 8,3 persen year-on-year (yoy). Harga rumah di Surakarta meski mengalami fluktuasi setiap bulannya, secara umum menunjukkan tren yang meningkat sejak awal tahun 2023 lalu," ujarnya, Senin (26/8).

Dari sisi permintaan (enquiries), Surakarta sempat mengalami penurunan permintaan yang signifikan pada periode Februari-Maret 2023.

Permintaan rumah yang dijual turun 37,9 persen di bulan Februari 2023 dan permintaan rumah yang disewa turun 38,4 persen pada Maret 2023.

Namun memasuki tahun 2024, permintaan rumah yang dijual naik 61 persen secara tahunan, dibandingkan Februari 2023, dan rumah yang disewa naik 36,5 persen dibandingkan Maret 2023.

Jika disimpulkan, tren ini mengindikasikan permintaan rumah yang dijual dan disewa di Surakarta secara umum bergerak naik, meski terbilang fluktuatif.

Sepanjang periode Januari-Juli 2024, area paling populer dalam permintaan rumah seken di Surakarta adalah Banjarsari (35,2 persen), Jebres (30,4 persen) dan Laweyan (22,3 persen).

Sementara, Serengan dan Pasar Kliwon mencatatkan proporsi popularitas yang lebih kecil di 7,1 persen dan 4,9 persen.

Salah satunya dikarenakan Serengan dan Pasar Kliwon memiliki area yang lebih kecil dibandingkan kecamatan lainnya, sehingga mencatatkan permintaan yang lebih sedikit.

"Sementara wilayah lain, seperti Banjarsari dan Laweyan merupakan dua area yang terbilang strategis lantaran juga berlokasi paling dekat dari Bandar Udara Adi Soemarmo," kata Marisa. (kontan)

Pengembang Harapkan Penambahan Kuota

DIREKTUR PT Charson Timor Land Estate, Bobby Pitoby, menyampaikan harapannya agar kuota bantuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang telah habis dapat segera ditambah.

Data dari Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) menunjukkan bahwa total realisasi penyaluran dana FLPP untuk rumah subsidi hingga 13 Juni 2024 telah mencapai 80.134 unit, mendekati 50 persen dari total kuota FLPP tahun ini yang sebanyak 166.000 unit.

Berdasarkan tren realisasi rumah subsidi pasca-pandemi, sejak 2022, rata-rata realisasi per bulan mencapai 20.034 hingga 20.818 unit.

Dengan tren tersebut, diperkirakan kuota rumah subsidi tahun 2024 akan habis pada Agustus atau September 2024 mendatang, terutama karena permintaan dan realisasi FLPP biasanya meningkat di semester kedua.

Pitoby, yang juga menjabat sebagai Ketua Apindo NTT, mengungkapkan bahwa meskipun sektor properti di NTT menunjukkan perkembangan positif, laju pertumbuhannya masih lambat akibat daya beli masyarakat yang rendah.

"Pertumbuhan properti di NTT memang bagus, namun masih perlahan karena daya beli masyarakat yang rendah. Oleh karena itu, kami fokus pada rumah subsidi, sementara penyerapan untuk rumah komersial sangat kecil," ujar Pitoby.

Ia menjelaskan bahwa program FLPP menawarkan bantuan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat, dengan bunga sebesar 5 persen dan uang muka hanya Rp 1 juta. Untuk zona 9, yang mencakup Bali, NTB, dan NTT, harga rumah subsidi ditetapkan sebesar Rp 185 juta per unit.

Dengan uang muka 5 persen dari harga tersebut, masyarakat hanya perlu membayar sekitar Rp 1.850.000, dan cicilan bulanan sebesar Rp 1.200.000 selama 15 tahun, yang masih terjangkau dengan UMR yang ada.

Pitoby, yang juga Ketua Real Estate Indonesia (REI) NTT, menambahkan bahwa Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) harus memenuhi syarat pendapatan yang tidak melebihi Rp 6 juta untuk individu dan Rp 8 juta untuk gabungan pendapatan.

Saat ini, penyerapan rumah subsidi mencapai 85 persen-88%, sedangkan penyerapan untuk rumah komersial masih sangat rendah, yaitu sekitar 10 persen hingga 15 persen.

"REI NTT menargetkan penyediaan 2.500 hingga 3.000 unit rumah pada tahun 2024. Untuk itu, kami berharap adanya penambahan kuota FLPP agar lebih banyak masyarakat dapat memanfaatkan program ini," pungkasnya. (kontan)

 

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved