Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Krisis Air Bersih, Warga Bukit Hanya Dijatah 25 Liter Sehari

Aktivis lingkungan, Asana Viebeke Lengkong, menyebut krisis air di Bali bukan lagi di depan mata. Tapi sudah nyata adanya.

Penulis: eurazmy | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
KOMPAS.com
Ilustrasi air bersih 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR  - Aktivis lingkungan, Asana Viebeke Lengkong, menyebut krisis air di Bali bukan lagi di depan mata. Tapi sudah nyata adanya.

Faktanya, warga di kawasan Bukit (Ungasan, Pecatu, Jimbaran, dan Kutuh), Badung Selatan, hanya dijatah air 25 liter tiap harinya.

“Jadi sehari-hari warga lokal (di kawasan Bukit) rata-rata hanya bisa mengakses air bersih di waktu-waktu tertentu maksimal sebanyak 25 liter sehari,” ujar Viebeke, yang juga pemilik jasa akomodasi penginapan di wilayah Badung selatan.

Kondisi ini sangat kontras dengan para wisatawan. Disebutkan, para tamu di hotel-hotel pariwisata diklaim bisa menghabiskan air bersih sebanyak 4.500 liter tiap hari.

Padahal, kebutuhan air para wisatawan hanya meliputi mandi di shower, air bath-tub, flush toilet, air cuci muka, air kolam renang, dan sebagainya.

"Orang-orang di Bukit sana pakai air hanya untuk gosok gigi, mandi, dan kehidupan sehari-hari. Dapatnya cuma maksimal 25 liter tiap hari. Bahkan, kecenderungan pola hidupnya sekarang berubah jadi kalong (kelelawar) karena air keluar lancar hanya saat malam hari. Praktis aktivitas ibu-ibu seperti cuci baju hanya bisa di malam hari," ungkapnya sambil mencak-mencak usai menghadiri workshop penelitian air bersih di Denpasar, Jumat (15/2/2019).

Kata dia, penelitian soal krisis air di Bali sebenarnya sudah harus selesai sejak tahun 2000 silam. Soal krisis air sudah banyak dibicarakan di jurnal dan penelitian-penelitian akademis sejak lama, seperti pada tesis Ngurah Suryawan.

Hingga belasan tahun tersebut, kata dia, muncul lagi data penelitian serupa tanpa ada tindakan real lebih lanjut.

Sementara pada pemerintah, masih malu mengakui bahwa krisis air bersih di Bali sudah terjadi.

Padahal, intervensi pemerintah dalam hal ini penting guna mengendalikan ketersediaan air bersih di Bali.

''Kalau ngomong soal intrusi, itu sudah jelas sejak lama. Rusaknya permanen. Jadi, sekarang tinggal ketegasan pemerintah dalam membikin regulasi. Penggunaan air harus dibatasi," tegasnya.

''Jadi, penelitian intrusi air laut sudah enggak sesuai. Orang di bawah (rakyat) itu butuh air, enggak butuh data-data. Kita butuh air,'' imbuhnya.

Dalam penelitian tersebut, Ketua Tim Peneliti, Suryanegara Dwipa, mengatakan perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan air bersih di Bali tergolong di angka kritis.

Terlebih dengan adanya laju eksplorasi air yang sangat over di wilayah industri pariwisata.

Disebutkan, ketersediaan air potensial di Bali sebanyak 7.558 juta kubik yang terdiri atas air permukaan sebanyak 6.548,96 kubik dan air tanah sebanyak 285,15 juta kubik.

Baca: Tim Penelitian Politeknik Negeri Bali sebut Badung Paling Banyak Alami Intrusi Air Laut

Baca: Krisis Air Bersih di Depan Mata! Indikasi Intrusi Air Laut Terjadi di Lima Wilayah Pesisir Bali

Baca: Detik-detik Pesawat Lion Air JT-714 Jakarta-Pontianak Tergelincir di Runway Bandara Supadio

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved