Kabar Seleb

SELAMAT Jalan Maestro Keroncong Bali, Ayah Krisdayanti Meninggal Dunia, Ini Profil & Sosok Trenggono

Editor: Kambali
Kolase Tribun Bali: Trenggono dalam sebuah acara di Bentara Budaya Bali.

Mulanya, Trenggono bergabung dengan kelompok musik Dinas Angkatan Darat Seni Bangunan, sebelum ikut di Satria Purna Yuda, pimpinan Aji Kasno.

"Saya optimistis melihat perkembangan keroncong di Bali.

Boleh saja kesannya tua, tapi lama-kelamaan akan merambah yang muda," katanya penuh semangat.

Ia melihat kini sudah semakin banyak ada kreasi dan inovasi.

Penyanyi keroncong juga sudah mulai lebih luwes, mencoba dekat dengan penonton.

"Bagus juga cara itu untuk menepis kesan kunonya.

Syukur ada beberapa tempat yang bisa mewadahi kami, seperti Bentara Budaya Bali," ungkap Trenggono yang lebih sering berperan sebagai penyanyi.

Baca juga: Krisdayanti Suntik DNA Ikan Salmon Jadi Sorotan Lantaran Harganya Mahal Tapi Merasa Jadi Awet Muda

Lanjutnya, serasa menunjuk pada seorang penyanyi muda;

Trenggono berpendapat, sesungguhnya keroncong sifatnya relevan, bisa mengiringi lagu barat.

Tidak sedikit pula anak muda yang mulai melantunkan lagu pop dan barat dengan keroncong.

Kepiawaian Trenggono bermain keroncong dikarenakan latihan yang terus menerus.

"Sama juga dengan pemain gitar.

Awalnya pasti juga karena tidak bisa, tapi karena sering dilatih, jadi biasa," tuturnya.

Keroncong dinilainya tidaklah begitu susah.

"Awalnya senang saja dulu, kemudian kenali, jadilah hobi.

Coba dan coba lagi sampai jatuh cinta," ungkapnya.

Ia menambahkan, saat berlatih, seorang pemula juga tidak perlu memilih terlalu banyak lagu, cukup satu atau dua saja.

Berikutnya, barulah merambah yang lain hingga berhasil mendapatkan rasa senangnya.

"Ya, mungkin akan terjadi seleksi alam.

Misalnya ada sepuluh yang berminat, tapi kemudian, mungkin delapan orang beralih ke pop, sisanya baru ke keroncong," tandasnya.

Keroncongpun memiliki patern tersendiri.

Karakternya sudah ada, sehingga tidak perlu ditambahkan dengan piano dan alat musik lainnya.

Komposisi pemain musik baiknya tidak lebih dari tujuh orang.

"Di Bali, keroncong masih bisa bertahan sampai sekarang, itu karunia Tuhan," kata Trenggono.

Selain itu, keroncong dianggap melambangkan kesederhanaan, persahabatan, dan kebersamaan.

Baca juga: Tidak Mudah Jadi Seorang Diva seperti Krisdayanti, Anang Hermansyah: Mudah-mudahan Ilmu KD Diberikan

Bakat Mengalir ke Yuni Shara dan KD

KEINDAHAN suara yang dimiliki Trenggono,  menurutnya adalah karunia terindah Tuhan.

Ia merasa begitu bersyukur, hingga di masa senjanya, ia masih bisa terus bernyanyi keroncong dalam keadaan sehat dan penuh kehangatan persahabatan dari kawan-kawannya.

Pria yang juga sering bernyanyi untuk tujuan sosial dan menghibur teman-temannya itu merasa bangga, ternyata dalam diri beberapa anaknya, semisal Yuni Shara dan Krisdayanti mengalir darah seni vokal.

Kedua penyanyi ternama Indonesia itu mewarisi bakat sang ayah, memiliki suara indah nan syahdu.

"Saya tentu senang melihat mereka.

Ya, saya cukup sampai di sini, biarlah mereka yang terus maju dan berkembang, meniti karir masing-masing.

Biarkan ritmenya berjalan alami," tuturnya dalam penuh kesederhaan.

Baca juga: Krisdayanti Sebut Atta Halilintar Ngaco Karena Punya 15 Anak dari Aurel

Trenggono yang hari-harinya juga diisi dengan aktifitas melukis, mengaku tidak pernah memaksa atau sengaja mengarahkan anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya.

Ia membebaskan mereka untuk menentukan pilihan masing-masing.

"Sebenarnya saya tidak berani mengatakan apakah mereka mengikuti jejak saya atau tidak.

Tapi, ya, bisa dilihat sendiri, ternyata Yuni dan Yanti jauh lebih bagus dari saya, hehe...

Awalnya Yuni, kemudian diikuti adiknya," tuturnya.

Ia kerap menekankan bahwa karunia yang diberikan Tuhan itu baiknya dihargai.

Trenggono yang sempat menyanyi hingga ke Timor Leste itu menyampaikan akan indah kalau apa yang dimilikinya bisa dibagikan dalam sebuah komunitas.

Baca juga: Aurel Hermansyah idap Kista, Krisdayanti: Saya Tahu Sejak Pertama Dia Menstruasi

"Di komunitas, tempat untuk saling mengisi, bukan menjatuhkan," tuturnya.

Saat memberikan pelatihan atau mengajari seseorang, Trenggono biasanya akan menggunakan pendekatan yang lebih halus.

Apabila ada murid yang kemampuannya masih kurang, ia tidak serta merta memarahi.

"Saya katakan, perlu latihan lagi dan lagi. Hal ini penting agar mereka tidak down," imbuhnya.

Bagi Trenggono, tanpa bermaksud untuk meniru karya seseorang, tapi ia menyarankan juga agar ketika mendengar komposisi musik bagus, baiknya digunakan sebagai media pembelajaran.

"Kenapa tidak dijadikan bahan latihan?

Bisa dipelajari mengapa intronya bagus?" ujarnya.

Baca juga: Krisdayanti Wanti-wanti Atta Halilintar Dan Aurel Soal Ombak Dan Badai Dalam Pernikahan

Ia kembali menekankan bahwa apa yang dicapainya kini adalah sebuah rezeki.

"Jadi mengapa tidak dibagikan? Ya, perlu juga tanamkan sisi humanis dalam diri kita.

Saya menyanyi untuk kesenangan saja, tidak dibayarpun tidak apa.

Sekalian mengisi waktu dan tetap mengasah keterampilan," ujarnya.

Sebelum kembali melantunkan lagu bersama rekan-rekannya dari Orkes Keroncong SPY di halaman rumput Bentara Budaya Bali, ia menyampaikan pesan;

"Yang penting kita tetap kreatif".

Kini selamat jalan, maestro Keroncong Bali, Trenggono. (*)

Baca juga: PERNIKAHAN Atta Halilintar dan Aurel, Dihadiri Jokowi hingga Kalung Melati Ashanty dan Krisdayanti

Biodata Trenggono

Nama : Trenggono

TTL : Blora, Jawa Tengah, 4 Oktober, 1941

Anak :
1. Wahyu Setianing Budi (alias Yuni Shara)
2. Krisdayanti (alias KD)
3. Laras Dewantara
4. Lestari Merdeka Putri
5. Tri Laksono Subekti

Pendidikan :

  • SMA Dharma Putra Salatiga
  • ASRI Yogyakarta

Tambahan:

  • Pernah mendapat penghargaan dari RRI Malang
  • Sering diundang menjadi juri
  • Sering mengisi workshop untuk pengembangan musik Keroncong.
  • Anggota Komunitas Satria Purna yang juga bergabung di Komunitas Pecinta Keroncong Bali

Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul Trenggono, Bermain Keroncong Puluhan Tahun dan Bakat Mengalir ke Yuni dan Yanti.