Amerika Serikat Kembali Mencekam Karena Covid-19 Varian Delta

Ilustrasi genom virus corona

Hanya dalam waktu 194 hari, angka kasus di Eropa telah melewati angka 50 juta.

Pengunjuk rasa antivaksin membawa plakat berisi penolakan pada paspor vaksin dalam unjuk rasa di Parliament Square di luar gedung Parlemen Inggris di London, Senin (19/7/2021).

Meningkatnya kasus baru di Eropa menimbulkan efek negatif pada pasar. Pada Senin, saham merosot hingga lebih dari 2 persen—terburuk dalam sembilan bulan terakhir. Russ Mould, Direktur Investasi pada AJ Bell, mengatakan, situasi pandemi di Eropa telah membuat investor sangat khawatir.

”Covid menyebar lagi dengan cepat, dan maskapai penerbangan, restoran, serta biro-biro wisata mungkin tidak menikmati kuatnya pasar musim panas yang telah lama mereka harapkan,” kata Mould yang juga mengatakan, ”perdagangan musim panas yang kuat yang telah lama mereka harapkan.”

Menyikapi situasi terakhir di Eropa, sejumlah negara menerapkan kembali kebijakan pembatasan.

Pekan lalu, Pemerintah Belanda mengumumkan akan menerapkan kembali pedoman kerja dari rumah, serta pembatasan untuk bar, restoran, dan klub malam. Langkah itu muncul hanya beberapa minggu setelah Belanda mencabut ketentuan itu.

Sementara itu, Pemerintah Yunani akan menerapkan aturan yang mewajibkan pelanggan restoran, bar, dan kafe dalam ruangan untuk membuktikan bahwa mereka telah divaksinasi.

Pemerintah Perancis juga akan mengambil langkah serupa. Perancis, mulai Agustus nanti, mewajibkan warga—bila berada di tempat umum—untuk menunjukkan bukti bahwa mereka telah divaksin.

Selain itu, Perancis juga mewajibkan petugas-petugas kesehatan untuk divaksin Covid-19.

12 Gejala Terinfeksi Varian Delta

Virus corona varian delta menjadi momok paling menakutkan. Sifatnya yang mudah menular dan sangat mematikan, menjadi alasan organisasi kesehatan dunia (WHO) menjadikan virus ini sebagai perhatian.

Varian Delta pertama kali ditemukan di India dan kini menyebar di hampir seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Oleh karena itu, masyarakat perlu mewaspadai gejala serta cara penularan virus corona varian baru yang pertama kali ditemukan di India, varian Delta.

Setiap varian virus corona memiliki ciri-ciri yang berbeda terutama pada tingkat penularannya. Karenanya, masyarakat perlu memahami bagaimana gejala dan cara penularan masing-masing varian.

Dokter spesialis paru RSUI dr. Gatut Priyonugroho menjelaskan, varian Delta lebih menular dibandingkan dengan varian Alpha yang pertama kali terdeteksi di Inggris.

“Virus corona varian Alpha dari Inggris bisa menular dari satu orang kepada enam orang, dan varian Delta dari satu orang menularkannya kepada delapan orang," kata dr. Gatut dalam webinar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) seperti dikutip dari laman UI.

"Angka tersebut tidak saklek, tapi menggambarkan bahwa semudah itu varian virus corona yang baru menular,” katanya.

Menurut dia, seseorang yang sudah terinfeksi Covid-19 dan mendapatkan vaksin, maka antibodi naik kecuali untuk varian Delta.

Ketika seseorang sudah terkena varian Delta kemudian mendapatkan vaksin, maka keefektifannya tidak sebaik seseorang yang belum terkena varian Delta.

Gatut menyampaikan, pembersihan pada ruangan maupun tubuh lebih utama dibanding disinfeksi.

“Kalau tangan kita kotor, jangan didisinfeksi saja tapi tidak dibersihkan. Bersihkan dulu menggunakan sabun, karena cara ini paling aman untuk merontokkan struktur virus yang hinggap pada tangan kita,” tegasnya.

Gejala varian Delta

Gejala yang ditimbulkan oleh virus corona varian Delta hampir sama dengan gejala dari varian lainnya. Gejala yang biasa dialami pasien di antaranya adalah:

1. Demam (94 persen).

2. Batuk (79 persen).

3. Sesak (55 persen).

4. Berdahak (23 persen).

5. Nyeri badan (15 persen).

6. Lelah (23 persen).

7. Sakit kepala (8 persen).

8. Rinorea (7 persen).

9. Batuk darah (5 persen).

10. Diare (5 persen).

11. Anosmia (3 persen).

12. Mual (4 persen).

Gatut mengatakan, jika seseorang terkena gejala Covid-19 ringan, pada umumnya ia baik-baik saja (hanya 0,1 persen berat). Banyak masyarakat yang menganggap pasien yang sudah sembuh dari Covid-19 akan lebih kebal terhadap virus tersebut.

“Mereka yang pernah kena Covid-19 bukan berarti dia sudah menumbuhkan antibodi, tetapi itu juga tandanya dia terbukti rentan terkena Covid-19, karena virus itu cocok dengan tubuhnya sehingga mudah masuk," katanya.

"Maka, kita juga cukup sering menemukan kasus orang yang terinfeksi virus Covid-19 untuk yang kedua kalinya,” imbuh dia.

Berdasarkan informasi dari WHO, pasien dapat dikeluarkan dari isolasi setelah sepuluh hari positif SARS CoV2 (asimptomatik), dan sepuluh hari sesudah on set gejala dan terbebas dari gejala (simptomatik).

Meskipun sudah bebas dari isolasi mandiri maupun isolasi di rumahsakit, protokol kesehatan tetap harus dipatuhi dan menerapkan pola hidup bersih juga sehat.

Mengingat kasus positif di Indonesia semakin meningkat, Dekan FIA UI Prof. Candra Wijaya menekankan, pengetatan protokol kesehatan menjadi sebuah keharusan.

"Covid-19 itu ada. Kalau belakangan kita mendengar dari berita banyak yang menderita Covid-19, sekarang kita mendengar dari WhatsApp Group kita, saudara kita, keluarga kita yang kita sayangi terjangkit Covid-19,” ungkapnya.(*)

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Amerika Serikat Mencekam Lagi Karena Covid-19 Varian Delta, LA County Wajibkan Warga Pakai Masker