Berita Denpasar

11 Hotel Tutup Permanen dan 70 Tutup Sementara di Kota Denpasar, Termasuk Hotel Berbintang

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Salah satu hotel berbintang yang tutup di Kota Denpasar.

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sebanyak 11 hotel non bintang tutup permanen di Kota Denpasar, Bali, selama pandemic Covid-19.

Sementara 70 hotel non bintang lainnya harus tutup sementara.

Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Denpasar, tercatat ada 316 hotel non bintang di Denpasar.

Itu artinya, saat ini hotel non bintang di Kota Denpasar yang masih beroperasi tinggal 215 hotel.

Selain hotel non bintang, hotel berbintang di Kota Denpasar juga ada yang tutup sementara.

Dari 49 hotel berbintang yang ada di Kota Denpasar, sebanyak tiga hotel tutup sementara.

Baca Juga: Syarat Masuk Bali Lewat Pesawat Kini Bisa Tak Pakai PCR, Ini Ketentuannya 

Baca Juga: Ini 10 Kepala Daerah yang Ditegur Mendagri karena Lambat Bayar Insentif Nakes 

Pengelola hotel terpaksa melakukan penutupan permanen atau sementara karena terdampak pandemi.

Mereka tak bisa menutup biaya operasional karena tidak ada wisatawan yang menginap selama hampir satu setengah tahun masa pandemi ini.

"Hotel-hotel di Denpasar banyak yang tutup akibat matinya pariwisata karena pandemi Covid-19 yang sampai saat ini tengah melanda Indonesia khususnya Bali," kata Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Disparda) Kota Denpasar, MA Dezire Mulyani, Selasa 31 Agustus 2021.

Tidak adanya wisatawan yang datang terlebih menginap membuat hotel-hotel di Denpasar tak mendapatkan pendapatan.

Dan sejumlah hotel tutup permanen karena sudah tidak bisa membayar gaji karyawan serta memenuhi biaya operasional yang tinggi.

"Yang masih buka ada, dengan pengurangan karyawan," kata Dezire.

Pondok-pondok wisata juga mengalami nasib serupa.

Dari 90 pondok wisata di Kota Denpasar, yang tutup sementara sebanyak 32 usaha dan yang tutup permanen dua usaha.

Untuk vila dari 96 usaha yang tutup sementara ada sebanyak 36 vila.

Sedangkan yang tutup permanen sebanyak tiga vila.

Baca Juga: Ini 10 Kepala Daerah yang Ditegur Mendagri karena Lambat Bayar Insentif Nakes 

"Meski ada yang masih buka, namun mereka juga sudah susah payah untuk memenuhi operasional yang dibutuhkan. Mereka kesusahan untuk memenuhi operasional," katanya.

Selain ditutup, banyak hotel-hotel di Bali juga terpaksa dijual oleh pemiliknya akibat pandemi ini.

Bahkan muncul fenomena hotel-hotel di Bali dijual melalui platform pasar daring (marketplace).

Sebut saja, sebuah hotel di kawasan Sunset Road Kuta yang dijual Rp 65 miliar di situs marketplace Facebook.

Selain itu, sebuah hotel bintang 5 di kawasan Ubud, Gianyar dijual Rp 275 miliar situs jual beli properti Lamudi.

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace penjualan hotel di Bali semakin meningkat di masa pandemi ini.

“Hotel dijual ya sebenarnya masalah dari sebelum Covid juga sudah ada. Cuma waktu itu tidak terlalu menonjol jumlahnya karena memang ada orang bergerak dalam bidang jual-beli hotel, property. Cuma di masa Covid ini makin menonjol akhir-akhir ini," katanya, Jumat 30 Juli 2021.

Dia mengatakan, penyebab banyaknya para pengusaha yang memilih menutup hotelnya dan menjualnya tersebut akibat tidak bisanya menahan serangan pandemi yang menggerogoti perekonomian mereka.

Sehingga, salah satu langkah untuk penyelamatannya adalah dengan jalan menjual aset yang dimilikinya, seperti hotel.

"Saya melihat hotel itu usaha, basic-nya adalah untung dan rugi. Ketika dia sudah nggak bisa menahan keadaan ekonomi sekarang pasti larinya akan ke sana (menjual)," ujarnya.

Ketua PHRI Bali ini memaklumi keputusan yang diambil para pengusaha yang memilih menutup dan menjual hotelnya tersebut.

"Jadi saya kira itu sebuah keputusan yang bisa kita maklumi. Karena saya juga bagian dari orang-orang seperti itu (pengusaha hotel). Di masa seperti ini sangat tertekan banget. Jadi saya yakin mereka juga melepas hotelnya dalam harga yang sesuai mereka inginkan, apalagi di tengah kondisi sekarang. Pilihan itu juga harus diambil. Kalau diperpanjang, risikonya lebih panjang," jelasnya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno juga menilai penjualan hotel merupakan sesuatu yang wajar di tengah krisis.

Namun ia berharap para pemilik hotel untuk memikirkannya kembali sebelum memutuskan menjual atau melepas aset mereka.

"Kami berharap para pemilik penginapan ini harus berpikir ulang dan mengkaji dampak yang ditimbulkan dengan penjualan mereka. Jangan sampai, para pengusaha dalam negeri justru menjadi pihak yang dirugikan karena melakukan obral aset," kata Menparekraf Sandiaga Uno.

Akibatnya, lanjut dia, lapangan pekerjaan di Indonesia akan berkurang.

Alangkah baiknya terjalin kemitraan dari potensi-potensi investasi di sektor pariwisata dari investor luar negeri dengan mitra di Indonesia.

Sehingga dengan kolaborasi ini bisa menggerakkan kembali sektor pariwisata dan membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya.

Sejumlah langkah dan program telah dibuat Kemenparekraf untuk dapat menyelamatkan sektor pariwisata khususnya hotel dan restoran. (*)