Corona di Indonesia

Gelombang Ketiga Pandemi Covid-19 di Indonesia Diprediksi Terjadi Desember 2021

Editor: DionDBPutra
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito

Hingga Rabu 22 September 2021 Kemenkes mencatat 82.113.788 orang telah menerima suntikan dosis vaksin virus corona.

Sementara baru 46.496.177 orang yang telah rampung menerima dua dosis suntikan vaksin covid-19 di Indonesia.

Dengan demikian, target vaksinasi pemerintah dari total sasaran 208.265.720 orang baru menyentuh 39,42 persen dari sasaran vaksinasi yang menerima suntikan dosis pertama. Sedangkan suntikan dosis kedua baru berada di angka 22,32 persen.

Miko juga menegaskan tak hanya masalah vaksinasi Covid-19 yang bakal membuat RI kembali mengalami puncak.

Puncak kasus juga ditengarai oleh lambatnya penelusuran kontak dan rendahnya pengawasan saat pasien Covid-19 isolasi mandiri.

"Jadi ya memang bakal mengalami puncak lagi, kalau 3T lemah, vaksinasi enggak sampai 50 persen bakal lebih kecil, dan pembebasan aktivitas masyarakatnya keterlaluan," kata dia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PL) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengklaim pemerintah sudah mewaspadai puncak gelombang ketiga covid-19 pada Desember 2021.

"Kita belum selesai pandeminya, jadi kita tetap waspada prediksi puncak kasus ketiga ini pada Desember 2021," kata Nadia.

Nadia juga mengklaim sudah mengerahkan berbagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia.

Selain penguatan tracing dan sistem ketahanan rumah sakit, Kemenkes juga berusaha meningkatkan capaian vaksinasi Covid-19 di berbagai daerah.
Dalam sepekan terakhir, Nadia menyebut Kemenkes telah menyuntikkan 10 juta dosis vaksin Covid-19. Sejauh ini, total 125,7 juta vaksin Covid-19 telah disuntikkan kepada masyarakat.

Sementara pemerintah melakukan penguatan-penguatan tersebut, masyarakat diminta tetap patuh pada protokol kesehatan dan menghindari bepergian agar mobilitas tak naik.

"Kalau ada pelonggaran aktivitas, mobilitas cenderung meningkat dan protokol kesehatan lengah sehingga risiko penularan terjadi menyebabkan ada lonjakan kasus," kata dia.(tribun network/fik/rin/dod)