Berita Denpasar

Fenomena Pengamen di Denpasar, Sosiolog Unud Minta Pemerintah Siapkan Skema Penyerapan Tenaga Kerja

Gepeng dan pengamen di Kota Denpasar, Bali, diamankan oleh petugas Satpol PP, Sabtu 25 September 2021. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Belakangan ini, setelah pandemi Covid-19 meluluhlantakkan Bali, muncul fenomena baru di masyarakat.

Di mana muncul pengamen yang menggunakan pakaian adat bali lengkap dengan kamen (kain) dan udeng (pengikat kepala) serta membawa sound system kecil.

Baca juga: Antisipasi Trek-trekan, Personel Gabungan Polresta Denpasar Amankan 3 Sepeda Motor Tak Berstandar

Beberapa lagu Bali kemudian dinyanyikan oleh mereka dan yang paling populer adalah lagu Angkihan Baan Nyilih yang dipopulerkan oleh Widi Widiana.

Mereka biasanya menyasar beberapa traffic light dengan lalu lintas kendaraan yang padat seperti halnya di perempatan Jalan Nangka – Jalan Gatot Subroto Denpasar, perempatan Toh Pati, hingga tempat keramaian seperti Pasar Sanglah.

Baca juga: Satpol PP Denpasar Jaring Gepeng dan Pengamen, Dipulangkan ke Karangasem

Menurut Sosiolog Universitas Udayana, Gede Kamajaya, munculnya fenomena ini karena adanya keterdesakan ekonomi akibat pandemi.

Keadaan ini menyebabkan orang mulai merambah ke pekerjaan apa saja yang sekiranya bisa menghasilkan untuk bertahan hidup. 

Bahkan mereka pun menambahkan embel-embel identitas ke-Bali-an untuk menarik simpati masyarakat Bali.

Baca juga: Gepeng, Pengamen dan Pedagang Acung yang Terjaring di Badung Dipulangkan ke Daerah Asal

Dengan mendapat simpati yang lebih luas, tentu saja mereka akan mendapatkan pendapatan yang lebih banyak ketimbang tanpa menggunakan identitas ke-Bali-an sebagaimana pengamen pada umumnya.

“Identitas ke-Bali-an menjadi modal kultural mereka untuk memperbesar peluang mendapatkan simpati dan tentu saja ini bisa menambah pendapatan,” kata Kamajaya yang diwawancarai Minggu, 26 September 2021.

Halaman
12