Berita Bali

Laporkan ke Menkes, Kariyasa Sebut Naiknya Harga Tes PCR di Bali Akibat Ulah Mafia Alat Kesehatan

Penulis: Ragil Armando
Editor: Wema Satya Dinata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Anggota Komisi IX DPR RI Ketut Kariyasa Adnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Anggota Komisi IX DPR RI, Ketut Kariyasa Adnyana ikut berkomentar terkait dengan polemik harga tes PCR yang mencapai Rp 1,9 juta di Bali.

Menurut dia, pihaknya langsung melakukan penyelidikan dan mengirim informasi terkait hal tersebut ke Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin.

Kariyasa Adnyana menyebut bahwa tindakan tersebut adalah menyalahi aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Apalagi, pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Dirjen Pelayanan Kesehatan Nomor HK.02.02/I/2824/2021 tentang Batas Tarif Tertinggi Pemeriksaan Reserve Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR).

Baca juga: Bali Masih Terapkan PPKM Level 4, Anggota DPR RI Kariyasa Adnyana: Sudah Melalui Pertimbangan Khusus

Dalam surat tersebut tercantum bahwa pemerintah menetapkan biaya tes PCR di wilayah Jawa-Bali menjadi Rp 495.000.

Adapun biaya tes PCR di luar Jawa-Bali ditetapkan paling tinggi Rp 525.000.

Mantan Sekretaris Komisi III DPRD Bali ini bahkan mensinyalir adanya permainan mafia dalam kenaikan harga tes PCR yang tidak masuk akal tersebut.

“Sebenarnya kan sudah dibuatkan standar, bila perlu semestinya kita PCR kita dorong ada subsidi sehingga masyarakat bisa lebih murah, kalau sampai 1,9 juta itu ada permainan oknum-oknum tertentu dalam mencari keuntungan,” jelas dia, Senin 25 Oktober 2021.

Seperti diketahui, tarif harga tes PCR di Provinsi Bali belakangan ini menjadi sorotan.

Pasalnya salah satu wisatawan domestik, Bayu, menuturkan jika ada tarif PCR Express yang hasilnya bisa keluar dalam jangka waktu 4 jam saja dan tarifnya sentuh harga Rp 1,9 Juta.

Halaman
12