Berita Bali

Pandangan Sosiolog Tentang Fenomena Pengamen Berbusana Adat Bali: Contoh Malioboro Jogja

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sosiolog Universitas Udayana Bali, Wahyu Budi Nugroho

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Meskipun kerap ditertibkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), keberadaan gelandang dan pengemis (gepeng) serta pengamen bak jamur di wilayah perkotaan Denpasar, Bali. 

Mereka beroperasi di sejumlah titik traffic light di ruas jalan Kota Denpasar. Berbagai modus dilakukan mulai dari manusia silver, badut hingga berbusana adat Bali.

Sosiolog Universitas Udayana Bali, Wahyu Budi Nugroho, menilai, tidak hanya menertibkan, pemerintah harus jeli mendalami latar belakang fenomena munculnya para pengamen dengan berbagai modus yang salah satunya ialah pengamen berbusana adat Bali.

Baca juga: Penertiban Tak Selesaikan Masalah, KPPAD Bali Soroti Pengamen Anak Pakaian Adat

"Perlu dilihat dulu latar belakangnya, apakah sejak sebelum pandemi ia memang berprofesi sebagai seniman musik jalanan, atau baru menjadi demikian setelah masa pandemi COVID-19," kata Wahyu kepada Tribun Bali, Selasa 26 Oktober 2021.

Ia tak menampik masa pandemi COVID-19 dari sisi sosial ekonomi menyebabkan banyak orang berkurang pendapatannya bahkan kehilangan sama sekali pemasukannya.

"Hal ini menyebabkan mereka melakukan apa pun untuk menyambung hidup, boleh jadi salah satunya dengan menjadi seniman musik jalanan," ujarnya.

Baca juga: KPPAD Provinsi Bali Soroti Kasus Pengamen Anak-anak Diciduk Aparat, Made Ariasa Nilai Perlu Solusi

Lanjutnya, pemerintah maupun khalayak perlu melihat secara lebih arif.

Dewasa ini publik dikepung oleh hiburan-hiburan modern lewat televisi, media sosial, atau film-film online berlangganan. 

"Keberadaan para seniman jalanan dengan pakaian tradisional bisa menjadi penawar kerinduan kita akan seni dan budaya tradisional yang sudah mulai jarang ditampilkan, terlebih selama masa pandemi," tuturnya.

Halaman
12