Berita Bali

Pandangan Sosiolog Tentang Fenomena Pengamen Berbusana Adat Bali: Contoh Malioboro Jogja

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sosiolog Universitas Udayana Bali, Wahyu Budi Nugroho

"Sebetulnya ini tidak menjadi soal, justru jika bisa dikelola dengan baik, ini bisa menjadi daya tarik baru bagi pariwisata," sambung dosen yang baru saja merilis buku Sosiologi Kehidupan Sehari-hari itu. 

Baca juga: Soal Gepeng dan Pengamen di Denpasar, DPRD Bali Dorong Pemprov Beri Pelatihan & Insentif Wirausaha

Di Jogja misalkan, kata Wahyu, di objek wisata Malioboro bisa dijumpai para seniman musik jalanan dengan peralatan musik tradisional, serta menggunakan pakaian tradisional blangkon dan pakaian batik lurik. 

"Hal yang kedepan bisa dilakukan mungkin dengan membuat paguyuban seniman jalanan untuk membuatnya lebih terorganisir dan juga untuk mereduksi konflik antar seniman jalanan atau bahkan dengan masyarakat," paparnya.

Di samping itu, Wahyu menambahkan, idealnya pemerintah juga memberikan ketrampilan, bahkan lapangan pekerjaan agar mereka tidak turun ke jalan lagi, meskipun diakuinya hal itu tidak mudah dilakukan.

"Jika seperti itu, maka kuncinya adalah pemulihan segala sektor ekonomi, terutama sektor pariwisata untuk di Bali," pungkas dia. (*)

Berita lainnya di Berita Bali