Berita Bali

UPDATE: Jalani Sidang Dakwaan, Para Pelaku Penebas Gede Budiarsana Ajukan Keberatan

Penulis: Putu Candra
Editor: Wema Satya Dinata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Terdakwa I Wayan Sadia (bawah) dan Terdakwa Benny dkk (atas) saat menjalani sidang dakwaan secara daring di PN Denpasar.

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tujuh terdakwa pengeroyokan dan penebasan hingga mengakibatkan salah satu korbannya, Gede Budiarsana meregang nyawa menjalani sidang secara daring di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa, 30 Nopember 2021.

Mereka adalah I Wayan Sadia (39), Benny Bakarbessy (41), Jos Bus Likumahwa (30), Fendy Kainama (31), Gerson Pattiwaelapia (33), I Gusti Bagus Christian Alevanto (23), dan Dominggus Bakarbessy (23).

Diketahui, ketujuh terdakwa yang bekerja sebagai debt collector atau biasa disebut mata elang ini melakukan pengeroyokan dan penebasan terhadap dua korbannya di Monang Maning, Denpasar.

Dalam persidangan, terdakwa Wayan Sadia (berkas terpisah) menjalani sidang dakwaan terlebih dahulu. Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ida Bagus Putu Swadharma Diputra, terdakwa Wayan Sadia dikenakan dakwaan tunggal pasal 338 KUHP.

Baca juga: Hari Ini, Komplotan Mata Elang Penebas Gede Budiarsana Bakal Diadili

Terhadap dakwaan JPU tersebut, Wayan Sadia melalui tim penasihat hukumnya mengajukan eksepsi atau keberatan.

"Kami mengajukan keberatan, Yang Mulia," ucap anggota penasihat hukum terdakwa Wayan Sadia dari balik layar monitor kepada majelis hakim pimpinan I Putu Suyoga.

Keberatan atas dakwaan JPU juga disampaikan tim penasihat hukum terdakwa Benny Bakarbessy (41), Jos Bus Likumahwa (30), Fendy Kainama (31), Gerson Pattiwaelapia (33), I Gusti Bagus Christian Alevanto (23), dan Dominggus Bakarbessy (23).

Dalam surat dakwaan, JPU mendakwa keenam terdakwa tersebut dengan dakwaan alternatif.

Dakwaan pertama, perbuatan para terdakwa diancam pidana pasal 2 ayat (1) UU Darurat no.12 tahun 1951 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Atau kedua, pasal 170 ayat (1) KUHP. Atau ketiga, perbuatan ketujuh terdakwa diancam pidana dalam pasal 351 ayat (1) KUHP jo pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Karena keberatan, majelis hakim pun memberikan waktu seminggu bagi penasihat hukum para tersebut tersebut mengusun nota keberatannya. Sidang pun akan dilanjutkan pekan depan.

Halaman
123