Budaya
Dialog Virtual Dharma Panuntun, Bahas Filosofi Air Bagi Kehidupan Hindu Bali
Sastra Saraswati Sewana II, tahun 2022 memulai gelarannya dengan dialog virtual bertajuk 'Dharma Panuntun' pada Rabu, 19 Januari 2022.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Harun Ar Rasyid
Laporan Wartawan, Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setelah di launching secara virtual bertepatan dengan Purnama Kawolu, pada Senin 17 Januari 2022.
Sastra Saraswati Sewana II, tahun 2022 memulai gelarannya dengan dialog virtual bertajuk 'Dharma Panuntun' pada Rabu, 19 Januari 2022.
Kegiatan yang mendiskusikan pemuliaan air ini, digelar melalui zoom meeting yang disiarkan di kanal YouTube Yayasan Puri Kauhan Ubud. Dipandu langsung oleh Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, AAGN Ari Dwipayana.
Hadir sebagai narasumber, yaitu Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari, didampingi pecinta lontar dan sastra Jawa Kuno, Sugi Lanus. Selain itu hadir beberapa wiku atau sulinggih, untuk mengikuti webinar sampai berakhir, diantaranya Ida Pedanda Gede Putra Talikup.
Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari, mengatakan bahwa filosofi air sesungguhnya tidak sesederhana yang dipikirkan selama ini. Ada konsep yang sangat kompleks tentang air dalam berbagai lontar di Bali. Kebanyakan sumber lontar membahas air, yang dari tutur menjadi purana, purana menjadi tatwa, dan tatwa itu menjadi pakem Gama Tirta.
Air yang dipadankan dengan toya dan tirta dalam lontar, menurut sulinggih asal Gria Wanasari Sanur itu, merupakan unsur yang sangat vital dalam upacara agama di Bali.
Secara filosofis, tirta berasal dari kata tir yang bermakna sruti, ret yang maknanya smreti, dan tha yang bermakna puja. Percampuran ketiganya itu juga menjadi simbol windu, nada, dan candra yang menjadi wujud tiga kehidupan suci dari tirta. “Membicarakan air adalah membicarakan dunia,” ungkap Ida Pedanda Wanasari, dalam siaran pers, Jumat 21 Januari 2022.
Ida Pedanda melanjutkan, baik alam raya atau bhuwana agung maupun tubuh manusia atau bhuwana alit, tersusun mayoritas oleh air. Air suci yang mengalir dan memberi kehidupan dunia terdiri atas Tirta Kamandalu, Sanjiwani, Kundalini, Pawitra, dan Mahamreta. “Jika air rusak apalagi teracuni, maka kehidupan Bali juga akan rusak,” tegasnya.
Secara spiritual, beliau menegaskan, bahwa keadaan air yang mengalir bagi umat Hindu sangatlah disucikan, sehingga orang tidak boleh membuang kotoran, buang air kecil, bahkan meludah di sungai.
Senada dengan itu, Sugi Lanus juga menekankan pentingnya menjaga air yang memiliki peran yang luar biasa secara teologis, sosiologis maupun ekologis. Secara teologis, ia mengutip mantra yang menyebutkan air sebagai perwujudan Sang Hyang Siwa maha agung, sebagai realitas, kehidupan, dan perwujudan kehidupan itu sendiri.
Sugi Lanus juga menggarisbawahi, bahwa di antara naskah warisan leluhur Nusantara. Setidaknya ada 20 naskah yang secara spesifik membahas air. Disebutkan bahwa air terwujud sebagai konteks jalinan keindahan dan air sebagai variabel penting dalam inspirasi dan kedamaian yang memperteguh sang kawi.
Salah satu wujud air, berupa danau yang sebagai sentral air dan pusat peradaban untuk upacara, kelangsungan ekosistem dan persawahan.
“Koridor berpikir dan bertindak kita adalah pemuliaan air, orang harus tahu air adalah perwujudan Siwa yang maha agung,” katanya.
Sementara itu, AAGN Ari Dwipayana, yang juga Koordinator Staf Khusus Presiden ini, menyampaikan bahwa saat ini upaya pelestarian air secara komprehensif dan integrated dari hulu, tengah, hingga hilir sangat dibutuhkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/capistari-dwipayana-dan-beberapa-nar.jpg)