Berita Denpasar

Usai KTT G20 Petani Arak Banjir Order, DPRD Bali Ingatkan Jangan Oplos Arak

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Perayaan ditetapkannya Arak Bali menjadi sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

TRIBUN BALI.COM, DENPASAR - Arak dan kain endek Bali turut dihadirkan di KTT G20 di Bali. Setelah hadir diacara internasional, orderan arak pun melonjak drastis. Para petani arak maupun pelaku minuman fermentasi tersebut diharapkan untuk tidak melakukan pengoplosan sehingga kualitas arak tetap terjaga.

Gubernur Bali, Wayan Koster menerangkan bahwa dalam KTT G20 pihaknya telah berhasil memasukkan produk lokal Bali. Mulai dari endek Bali, souvenir,  dan juga menu yang dihidangkan juga dominan menggunakan produk lokal Bali.  

“Bahkan arak Bali banyak mendapat pesanan omset naik 300 persen. Minuman campuran arak Bali menjadi minuman sajian pada saat G20. Endek dan arak Bali naik kelas,” kata, Koster pada, Kamis 24 November 2022. 

Ia juga mengakui sekarang arak Bali menjadi produk yang berkelas  dan masuk ke pasar global dengan kemasan yang sangat elegan. 

“Kami bersyukur karena diterima oleh masyarakat dan sangat  berpengaruh untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menghidupkan UMKM di Bali,” sambungnya.

Secara terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Karangasem, I Nyoman Oka Antara.yang juga anggota DPRD Bali dapil Karangasem ini mengakui petani arak di wilayah Kabupaten Karangasem saat ini sudah mulai kebanjiran order, pasca berlangsungnya KTT G20 di Bali.  Bahkan kerjasama petani arak dengan pemerintah telah dilakukan. “MoU arak dan endek yang difasilitasi oleh Pak Gubernur sudah memberikan dampak pada perekonomian warga di Karangasem,” jelasnya. 

Menurutnya, produksi arak yang berlabel di Karangasem sudah mendapatkan pesanan dari beberapa negara anggota G20. Terlebih pada setiap hotel-hotel yang ada sudah menyediakan arak Bali di daftar menunya, bahkan ada yang sebagai welcome drink atau minuman selamat datang. Selain arak, beberapa hotel yang ada di wilayah Karangasem sudah ada bookingan untuk akhir tahun 2022 ini. 

“Ada juga yang MoU untuk diekspor, untuk ke hotel-hotel sudah masuk araknya,” tegas Oka Antara.

Lebih lanjut, petani arak yang ada di Karangasem khususnya yang berlabel resmi sudah memiliki relasi dalam pemasarannya. Ia berharap mulai bangkitnya petani arak Bali jangan diganggu lagi dengan munculnya petani arak gula kembali atau arak oplosan. “Karena untuk arak gula itu memang dilarang, merugikan yang bikin arak tradisional,” pungkasnya.

Sementara untuk memantau petani arak, Pemerintah Provinsi Bali melalui Tim Sertifikasi Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali melakukan monitoring. Khususnya  implementasi Peraturan Gubernur Nomor 1 Tahun 2020 Tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali. Kunjungan ke pabrik yang berlokasi di Desa Antiga, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem ini bertujuan untuk memastikan bahwa sinergi antara petani/perajin arak, koperasi dan pabrik arak telah berjalan dengan baik. 

Tim sertifikasi dihadiri oleh Dewa Made Puspa dan A.A. Istri Mirah Darma Astuti dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali, serta I Made Pasek Kimiartha dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali. Dewa Puspa mengatakan, kedatangan tim sertifikasi ini untuk memastikan Pergub No. 1 Tahun 2020 berjalan sudah sebagaimana mestinya. “Sudah dua tahun diimplementasikan, kami mau periksa apa kenyataan sudah sesuai sinergi petani/perajin arak, koperasi dan pabrik arak,” ujarnya.

Tim sertifikasi juga ingin mendengar langsung tanggapan dari ketiga pihak keluh kesah maupun sisi positif dari diterbitkannya Pergub No. 1 Tahun 2020 dan sertifikasi BARAK (Balinese Arak). “Label BARAK pada kemasan untuk membuat konsumen yakin bahwa yang mereka konsumsi adalah produk asli Bali,” tutupnya. (*) 

Berita Terkini