Berita Gianyar

Dinas Perkim Gianyar, Bali Terima 285 Proposal Perbaikan Rumah

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ilustrasi bedah rumah - Total proposal bedah dan rehab rumah yang tak bisa direalisasikan di Gianyar, Bali sampai akhir tahun 2022 ini, sebanyak 285 unit.

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkim) Gianyar merupakan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemkab Gianyar yang menangani bedah rumah atau rehab rumah warga kurang mampu di Gianyar.

Dikarenakan ekonomi Gianyar semput dilumpuhkan pandemi covid-19 sepanjang tahun 2020 sampai awal 2022, mengakibatkan proposal permohonan bedah rumah maupun rehab tak bisa direalisasikan.

Berdasarkan data dihimpun Tribun Bali, Jumat 25 November 2022, adapun total proposal bedah dan rehab rumah yang tak bisa direalisasikan sampai akhir tahun 2022 ini, sebanyak 285 unit.

Rinciannya, 100 proposal masuk di tahun sebelum 2021, sebanyak 43 unit masuk tahun 2021 dan sisanya adalah tahun ini. Proposal itu termasuk juga program jambanisasi. 

Kepala Dinas Perkim, I Gusti Ngurah Swastika membenarkan hal itu. Kata dia, di tahun 2023 nanti  pihaknya akan menginventarisasi proposal yang masuk, supaya pihaknya bisa mengusulkan di anggaran mana yang prioritas. 

"Untuk 2023 kita baru inventarisasi usulan(proposal) setelah diverifikasi sesuai prioritas kebutuhan rumah. Banyak yang menyampaikan proposal cuma kita harus mengacu pada hasil verifikasi lapangan. Sebab usulan ini berasal dari desa," ujar Ngurah Swastika. 

Ketua DPRD Gianyar, I Wayan Tagel Winarta meminta masyarakat memaklumi ekskutif belum bisa merealisasikan proposal yang masuk, karena keterbatasan anggaran.

Selain itu, Tagel menyakini banyak warga Gianyar yang mengajukan bedah rumah bukan berati mereka tidak memiliki rumah, mereka mencoba ingin mencari peluang untuk mendapat kesempatan tersebut. 

Baca juga: 103 Kegiatan Bedah Rumah Tahun 2020 Ditunda, Dinas PUPR Perkim Bangli Akan Konsultasi ke Pusat

Meski demikian, Tagel yakin Dinas Perkim pasti mempunyai skala prioritas yang memang benar tidak memiliki rumah.

"Khususnya di Gianyar saya yakin tidak banyak yang tidak memiliki rumah. Mereka ingin mengajukan karena mungkin menurut mereka rumah tidak layak. Tapi intinya perlu ada skala prioritas yang memang tidak memilki rumah, yang memang rumah sangat tidak layak huni, itu yang harus diberikan," ujar Tagel.

Sejauh ini, Tagel tak pernah melihat masyarakat Gianyar yang hidup dalam rumah yang tak layak huni.

Sebab Gianyar memiliki berbagai bahan bangunan. Dimana jika tak memiliki uang membuat atap genteng, membuat tembok, dan sebagainya.

Masyarakat biasan menggunakan bahan yang disediakan alam. Dan, rumah yang menggunakan bahan alam, lumrah di Bali. Bahkan rumah modern, penginapan juga menggunakan hal tersebut.

"Jadi, saya kira tidak ada masyarakat Gianyar yang memiliki rumah yang sangat tidak layak huni," ujarnya. (*)

Berita Terkini