Berita Bali

Giat Pasamuhan Agung Kebudayaan Bali, Bahas Makna Tari Sakral dan Bali-Balihan

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Narasumber MKB, Prof. Dr. I Made Bandem ketika ditemui pada, Minggu 27 November 2022. Dalam kegiatan Pasamuhan Agung Kebudayaan Bali Tahun 2022 yang diadakan oleh MKB diselipkan pembicaraan terkait Taksu dalam seni pertunjukan.

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam kegiatan Pasamuhan Agung Kebudayaan Bali Tahun 2022 yang diadakan oleh Majelis Kebudayaan Bali (MKB) diselipkan pembicaraan terkait Taksu dalam seni pertunjukan serta membahas terkait pengertian makna tarian sakral pada, Minggu 27 November 2022.

Narasumber yang membahas topik tersebut yakni Prof. Dr. I Made Bandem.

Ketika ditemui, Prof. Bandem mengatakan sebelumnya telah dilakukan klasifikasi mengenai ‘wali bebali dan bali-balihan’. 

“Tari sakral ada tari wali dan bebali sesungguhnya. Tari wali ada desakralisasi seni, dan seni sakral dipentaskan untuk seni profan kan konteksnya berbeda. Akan hilang sakralnya kalau seni sakral untuk mencari penghargaan dan menyambut tamu yang bukan kepentingan disebut asakralisasi,” katanya pada, Minggu 28 November 2022 kemarin. 

Lebih lanjutnya ia menjelaskan banyak proses seperti ini dan terdapat komersialisasi berlebihan pada tari sakral.

Maka dari itu, diadakannya acara Pasamuhan Agung Kebudayaan Bali ini untuk mengantisipasi, melakukan revitaslisasi dan pemeliharaan seni sakral dan wali bebali agar tidak dikomersialkan dan tidak kehilangan  ‘tengetnya’ (taksu-sakral). 

“Kan seni sakral yang dikukuhan Unesco ada Rejang Sanghyang dan ada Baris Gede. Kita lihat Rejang itu banyak sekali menciptakan Rejang baru. Lalu Tari Rejang Renteng, Rejang  Gesari, banyak dipentaskan pada kepentingan diluar konteks keagamaan dan juga kita anggap bahwa mungkin penciptaan tarian tidak dilakukan proses sakralisasi,” tandasnya. 

Menurutnya proses sakralisasi ini penting karena pada saat tarian Rejang dipentaskan di Pura harus melalui proses sakralisasi.

Ia pun memberikan contoh misalnya pada Tarian ‘Joget Bumbung’ yang bukan termasuk dalam kategori tarian sakral, namun masuk dalam ‘balih balihan’.

Baca juga: Gubernur Bali, Wayan Koster Buka Pesamuhan Agung Kebudayaan Bali

Dan tak jarang dalam penyajian seni Joget Bumbung ditemukan banyak pelecehan dan pornografi sehingga Tarian Joget Bumbung mulai kehilangan taksunya. 

“Ini coba kita tata. Tari Rejang itu ada 52 jenis, ada Rejang Renteng, Sutri macam-macam itu lahirnya menyambut betara betari bahkan Sang Hyang sendiri representasi dari dewa dewi,” paparnya. 

Ia juga memberikan contoh pada tarian Sanghyang Deling yang sempat dipentaskan di Art Center dengan alasan rekonstruksi khas dari sebuah Kabupaten.

Saat dipentaskan selama tiga jam, para penari tidak ada yang dapat ‘kerauhan’ (kerasukan) karena tempatnya bukan tempat sakral dan waktunya bukan waktu yang sakral sehingga taksu dari tarian tersebut tidak keluar.

Sementara menurutnya, Tari Rejang pada umumnya dipentaskan oleh perempuan jikapun ada laki-laki yang dapat menarikan tari rejang menurutnya, sah-sah saja. 

“Asalkan jangan dibuat Rejang sebagai lelucon itu akan menghilangkan kesakralan dan dijadikan plecehan,” tutupnya. (*) 

Berita Terkini