Berita Badung
Penyakit Kulit Jadi Ancaman Peternak Sapi, Disperpa Badung Ingatkan Disiplin Vaksinasi
Penyakit Kulit Jadi Ancaman Peternak Sapi, Disperpa Badung Ingatkan Disiplin Vaksinasi
Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) atau yang lebih dikenal dengan penyakit kulit berbenjol pada hewan khususnya sapi masih menjadi ancaman sampai saat ini.
Untuk mengantisipasi hal itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kabupaten Badung, I Wayan Wijana, mengimbau para peternak sapi untuk meningkatkan kewaspadaan.
Semua peternak di gumi keris diminta untuk tetap melaksanalan disiplin vaksinasi, menjaga kebersihan kandang, serta menerapkan biosekuriti secara ketat.
Wijana menegaskan, LSD merupakan penyakit hewan menular strategis yang belum memiliki pengobatan spesifik, sehingga pencegahan menjadi langkah utama dalam pengendalian penyakit tersebut.
Baca juga: BREAKING NEWS: Kandang Ayam di Desa Nyangglan Bali Ludes Terbakar, Damkar Terjunkan Regu 3
"LSD belum ada obatnya. Karena itu pencegahan harus diperkuat, mulai dari vaksinasi, kebersihan kandang, hingga pengendalian lingkungan. Tapi hingga saat ini di Badung belum ditemukan kasus LSD ini,” ujar Wijana, Selasa 14 Januari 2026.
Pihaknya mengaku telah menginstruksikan seluruh jajaran teknis di lapangan untuk bersiaga menghadapi potensi penyebaran LSD.
Dirinya juga sudah memerintahkan seluruh kepala puskeswan dan kepala satuan kerja untuk siaga dan melakukan sosialisasi kepada para peternak agar mewaspadai penyakit LSD ini.
Baca juga: Sebut Tuntutan Dipenuhi, Forum Swakelola Sampah Bali Batalkan Demo Kedua
"Jadi kami imbau pada sosialisasi dengan rutin melakukan pemeriksaan ternak, menjaga kebersihan kandang, melakukan spraying, serta membatasi orang yang masuk ke kandang," tegasnya.
Selain itu, Disperpa Badung juga telah menyiapkan tim reaksi cepat pengendalian penyakit ternak yang dilengkapi dengan mobil khusus dan layanan ambulatory guna mempercepat penanganan di lapangan.
"Kami memiliki tim reaksi cepat yang siap turun ke lokasi jika ada laporan ternak bergejala sakit. Peternak diminta segera melapor apabila menemukan gejala LSD agar bisa segera ditangani," jelas Wijana.
Menurutnya, penularan LSD umumnya terjadi melalui gigitan serangga seperti lalat, nyamuk, dan kutu yang berkembang di lingkungan kandang yang kotor dan lembap. Karena itu, pengelolaan kandang dan limbah ternak menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
Pihaknya juga mengingatkan peternak agar mengarantina ternak baru serta segera mengisolasi sapi yang menunjukkan gejala seperti demam dan benjolan pada kulit. Selain itu dirinya juga meminta agar peternak tidak memperjualbelikan ternak yang sakit. Langkah ini penting untuk mencegah penularan ke ternak lain.
"Pendampingan kepada peternak melalui penyuluh dan petugas kesehatan hewan, sekaligus memastikan pelaksanaan vaksinasi LSD berjalan optimal di seluruh wilayah Badung tetap kami laksanakan dalam hal ini," imbuh Wijana. (*)
| Giri Prasta Sebut Gus Bota Berpeluang Rebut Kursi Bupati Badung, Akankah AdiCipta Pecah Kongsi? |
|
|---|
| Dihadapan Anggota Ormas, Giri Prasta Gadang-gadang Gus Bota Jadi Bupati Badung |
|
|---|
| HUT Baladika Bali Jadi Panggung Dukungan Gus Bota ke Badung Satu, Giri Prasta: Astungkara |
|
|---|
| Meski Sudah Beroperasi, RSUD Giri Asih Bali Terhambat SDM, Kekurangan Tiga Dokter Spesialis |
|
|---|
| LOWONGAN Kerja, Kekurangan 3 Dokter Spesialis, Meski Sudah Beroperasi RSUD Giri Asih Terhambat SDM! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Sejumlah-sapi-yang-akan-dijual-di-Pasar-Hewan-Beringkit.jpg)