Cuaca Ekstrem di Bali

Cuaca Ekstrem dengan Curah Hujan Tinggi, Disdikpora Badung Imbau Sekolah Terapkan Belajar Daring

Istimewa
KABID - Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Badung, Rai Twistyanti Raharja, ST., MT 

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang disertai angin kencang yang melanda Kabupaten Badung saat ini sangat berdampak pada dunia pendidikan di Gumi Keris.

Pasalnya hujan lebat disertai angin kencang terjadi pada Senin 23 Februari 2026  hingga Selasa 24 Februari 2026 sangat membahayakan aktivitas di luar ruangan.

Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Badung mengeluarkan imbauan kepada seluruh satuan pendidikan agar meningkatkan kewaspadaan.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Bali Besok 25 Februari 2026, Waspada Hujan Lebat Disertai Angin Kencang di Badung

Tidak hanya itu, disdikpora juga mengimbau sekolah agar memberlakukan pembelajaran daring (online) apabila kondisi cuaca dinilai membahayakan.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Badung, Rai Twistyanti Raharja, ST., MT., mengakui jika sejumlah sekolah di beberapa kecamatan telah mengambil langkah antisipatif dengan memulangkan siswa lebih awal.

Jika cuaca ekstrem tetap berlanjut diimbau melanjutkan proses pembelajaran secara daring dari rumah.

"Jika terjadi hujan lebat disertai angin kencang dan petir saat jam pembelajaran, terutama ketika ada kegiatan di luar ruangan, maka aktivitas tersebut harus segera dihentikan."

Baca juga: DAFTAR Peristiwa Akibat Hujan di Bali, Banjir Hingga Tanggul Jebol di Denpasar

"Siswa diarahkan masuk ke ruang kelas atau tempat yang lebih aman. Apabila situasi tidak memungkinkan, sekolah dapat mengalihkan pembelajaran menjadi daring,” jelasnya.

Menurut Rai, kebijakan tersebut merupakan bentuk respons cepat terhadap kondisi cuaca ekstrem yang dalam beberapa hari terakhir memicu genangan hingga banjir di sejumlah titik, serta meningkatkan risiko pohon tumbang dan gangguan keselamatan lainnya di lingkungan sekolah.

Selain itu di beberapa wilayah juga lumpuh karena terjadi banjir seperti di wilayah Kuta.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Bali Hari Ini 22 Februari 2026, Tanah Lot Hujan, Klungkung Waspada Angin Kencang

"Jadi kita antisipasi. Kita berikan kewenangan kepada satuan pendidikan untuk keamanan siswa," bebernya 

Dia menegaskan bahwa keputusan untuk menerapkan pembelajaran daring sepenuhnya berada pada kewenangan masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan warga sekolah, kondisi lingkungan sekitar, serta aksesibilitas siswa.

"Keputusan pembelajaran daring ini ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, serta memperhatikan kondisi riil di lapangan," ujarnya.

Rai menambahkan, penerapan pembelajaran daring diharapkan dilakukan secara proporsional dan tidak membebani siswa.

Sekolah juga diminta memperhatikan keterjangkauan perangkat pembelajaran serta kestabilan jaringan internet, sehingga hak peserta didik untuk memperoleh layanan pendidikan tetap terpenuhi tanpa menimbulkan kesenjangan. 

"Keselamatan adalah prioritas utama. Namun di sisi lain, proses pembelajaran harus tetap berjalan. Karena itu pelaksanaannya harus fleksibel, adaptif, dan tetap memperhatikan kemampuan siswa dalam mengakses pembelajaran daring," ucaonya

Berdasarkan laporan yang diterima Disdikpora, sejumlah sekolah di Kecamatan Mengwi hingga Kuta Selatan telah menerapkan kebijakan tersebut.

Para siswa dipulangkan lebih awal, sekitar pukul 11.00 Wita, untuk melanjutkan kegiatan belajar dari rumah.

Selain itu, terdapat sekolah yang terdampak genangan dan banjir, khususnya di kawasan Kuta, Seminyak, dan Tuban.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu keselamatan dan kenyamanan proses belajar mengajar apabila tetap dilaksanakan secara tatap muka.

"Kalau dipaksa juga tidak bisa dilaksanakan di sekolah, karena belajar butuh kenyamanan. Tetap dalam situasi ini kita utamakan keselamatan," bebernya.

Lebih lanjut pihaknya juga mengimbau seluruh kepala sekolah agar terus memantau perkembangan cuaca, berkoordinasi dengan pihak terkait, serta memastikan jalur evakuasi dan sarana prasarana sekolah dalam kondisi aman.

Langkah mitigasi dini dinilai penting untuk meminimalisasi risiko apabila terjadi cuaca ekstrem susulan.

"Pada intinya pembelajaran daring, tegasnya, diberlakukan secara situasional dengan menyesuaikan perkembangan kondisi cuaca di masing-masing wilayah sekolah," imbuhnya. (*)

 

 

Berita lainnya di Disdikpora Badung