Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Seputar Bali

Wayan Koster Sebut Bali Kini Hadapi 3 Masalah Serius, Mulai dari Lahan, Sampah hingga Penduduk

Gubernur Bali, Wayan Koster menyebut kini Bali tengah menghadapi masalah serius yang memerlukan solusi cerdas.

Tayang:

TRIBUN-BALI.LCOM, DENPASAR - Gubernur Bali, Wayan Koster menyebut kini Bali tengah menghadapi masalah serius yang memerlukan solusi cerdas.

Wayan Koster mengungkapkan kini Bali tengah menghadapi tak cuma satu tapi 3 masalah serius yakni lahan, sampah dan pengurangan penduduk.

Sampah menjadi masalah yang kini terus menjadi momok yang mengerikan apalagi di kota besar seperti Denpasar dan Badung yang mulai berpikir untuk membuang sampah.

Hal ini mengingat TPA Suwung yang dari dahulu menjadi tempat pembuangan sampah dijadwalkan akan tidak beroperasi lagi.

Baca juga: Wali Kota Denpasar Resmi Dilaporkan FSKMP ke Bareskrim Mabes Polri, Jaya Negara Banjir Dukungan

Selain itu, sampah yang menumpuk di pantai-pantai di Bali juga menjadi perhatian apalagi sempat disinggung oleh Presiden Indonesia, Prabowo Subianto beberapa waktu lalu.

Terbaru, Gubernur asal Buleleng ini menyebut bahwa Luas pulau Bali semakin mengecil akibat abrasi di sejumlah pantai. 

Awalnya luas wilayah Bali 5.640 kilometer persegi, sekarang menjadi 5.590 kilometer persegi atau 0,1 persen dari luasnya Indonesia. 

Menurut Gubernur Bali, Wayan Koster, pulau kecil yang dijuluki Pulau Dewata ini terus mengalami penyusutan karena faktor abrasi pantai, bencana, dan faktor-faktor alamiah lainnya. 

“Tadinya 5.640 kilometer persegi sekarang sudah berkurang. Abrasi pantai diantaranya salah satu yang memenuhi di utara, di selatan apalagi ini pantainya tergerus sekarang banyak sawah tinggal sertifikat, sawahnya kurang banyak,"

"Jadi ini yang terkait dengan masalah abrasi. Maka ke depan kita harus menangani masalah abrasi pantai,” ungkap Wayan Koster pada acara Grand Design Ekonomi dan Investasi Hijau Bali di Bali International Hospital, Kawasan Ekonomi Khusus-Sanur, Rabu 18 Februari 2026.

Baca juga: Pintu Kamar Didobrak, Gadis 13 Tahun di Gerokgak Dilecehkan 3 Laki-Laki 

Gubernur Bali, Wayan Koster pada Rapat Paripurna Raperda
Gubernur Bali, Wayan Koster pada Rapat Paripurna Raperda (Istimewa)

Baca juga: PEGAWAI Dinas PU Klungkung Diberhentikan Sementara Usai Tertangkap Kasus Narkoba, Simak Beritanya!

Selain itu, alih fungsi lahan juga masif terjadi di Bali belakangan tercatat alih fungsi lahan capai angka 600-700 hektar per tahun. 

Ini merupakan dampak negatif perkembangan pariwisata terhadap lingkungan dan ketahanan pangan di Bali.

Namun Koster juga mengatakan, pariwisata memang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian Bali dan Indonesia. 

Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat risiko yang harus dikendalikan agar tidak merusak masa depan Bali.

“Tadi sukanya, enaknya jadi daerah pariwisata. Sekarang gak enaknya, alih fungsi lahan terus meningkat 600 sampai 700 hektar per tahun. Ini yang harus kita kendalikan,” bebernya. 

Ia menegaskan, jika alih fungsi lahan tidak dikontrol secara serius, Bali akan menghadapi ancaman terhadap sumber pangan. Koster juga mengingatkan bahaya ketergantungan Bali terhadap pasokan pangan dari luar daerah.

“Kalau gak kita kendalikan alih fungsi lahan kita di Bali ini, Bali akan menghadapi ancaman sumber pangan dan juga akan semakin tergerus. Kalau pangan kita terdepan terancam,"

"Memangnya kita hidup dari mana? Dan saya tidak ingin Bali ini terlalu banyak bergantung sumber pangannya dari luar, karena itu membahayakan,” tegasnya.

Selain itu, wayan Koster juga menyinggung pengurangan pertumbuhan penduduk yang dinilai jauh lebih rendah dari pertumbuhan nasional.

Tercatat, pertumbuhan penduduk, Bali berada di angka 0,66 persen lebih rendah dari pertumbuhan penduduk nasional yakni 1,04 persen.

Koster mengklaim, hal tersebut disebabkan karena KB 2 anak yang berlangsung di zaman orde baru terlalu berhasil di Bali. 

Gubernur Bali Wayan Koster bertatap muka dengan pecalang di Desa Adat Buleleng di Setra Desa Adat Buleleng, Kabupaten Buleleng, Sabtu 7 Februari 2026.
Gubernur Bali Wayan Koster bertatap muka dengan pecalang di Desa Adat Buleleng di Setra Desa Adat Buleleng, Kabupaten Buleleng, Sabtu 7 Februari 2026. (Istimewa)

Hal tersebut ia sampaikan pada acara Grand Design Ekonomi dan Investasi Hijau Bali di Bali International Hospital, Kawasan Ekonomi Khusus-Sanur, Rabu 18 Februari 2026.

“Jadi di Bali ini sebenarnya dilakukan KB 2 anak zaman orde baru. Selama berpuluh-puluh tahun, Bali adalah provinsi yang paling sukses menjalankan program KB 2 anak laki-perempuan sama saja sampai dapat penghargaan,” ungkap, Koster.

Lebih lanjutnya, Koster mengatakan akibat keberhasilan KB sekarang ini dampaknya pertumbuhan Bali lebih banyak bersumber dari pendatang yang membuat populasi penduduk asli Bali menurun sebab hanya memiliki dua anak itu. 

Koster juga menjelaskan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pertumbuhan penduduk Bali l cenderung menurun. 

Bahkan menurutnya sampai di tahun 2050 jumlah penduduk Bali akan terus menurun.

“Ini harus kita antisipasi jangan sampai kayak Tokyo, Jepang fenomenanya sekarang, gak mau nikah atau mau nikah, gak mau punya anak lalu mau nikah, paling punya anak cuma satu maka defisit Tokyo itu yang membuat mereka akan memberikan insentif untuk orang mau datang tinggal di Tokyo Singapura sama Cina pun juga sama defisit penduduk menurun jumlahnya,” imbuhnya.

Dengan faktor-faktor tersebut, Koster menegaskan akan segera membuat kebijakan untuk tidak lagi menggunakan KB 2 anak, melainkan menjadi KB 4 anak yang terpenting dari satu istri sah. 

Populasi Nyoman dan Ketut di Bali tersisa tinggal 4,5 persen. 

Kebijakan ini didorong agar Nyoman dan Ketut tidak punah sampai 50 tahun lagi dan hanya dapat dilihat di museum.

“Jadi ini gambaran buruk demografi kita di Bali. Mengapa saya perlu menekankan ini Karena Kalau ini tidak dikelola dengan baik Nyoman dan ketut hilang Itu sebenarnya penjaga budaya kita di Bali ini akan menurun,” tandasnya.

Koster tekankan agar jangan terlalu bangga mendapatkan penghargaan KB dua anak.

“Kita sekarang menghadapi masalah demografi ancaman serius ini jangan dianggap remeh ini,” pungkasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved