bisnis
Mayoritas Harga Pangan Turun di Awal Tahun 2026, Ini Sebabnya
Sementara itu, beras medium non-SPHP dan beras khusus lokal relatif stabil masing-masing di Rp 13.831 per kg dan Rp 15.829 per kg.
TRIBUN-BALI.COM - Harga pangan nasional pada awal 2026 terpantau melemah di mayoritas komoditas strategis.
Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 9 Januari 2026 menunjukkan penurunan harga terjadi mulai dari beras, hortikultura, hingga protein hewani, menandakan kondisi pasokan yang relatif longgar di tingkat nasional.
Harga beras premium tercatat Rp 15.497 per kilogram (kg), turun 0,14 persen, sementara beras medium berada di Rp 13.526 per kg, turun 0,03 % . Beras SPHP juga melemah 0,14 % ke level Rp12.446 per kg.
Sementara itu, beras medium non-SPHP dan beras khusus lokal relatif stabil masing-masing di Rp 13.831 per kg dan Rp 15.829 per kg.
Baca juga: TEWAS Anak 8 Tahun di Karangasem Suspect Rabies, Bali Waspada! Dinkes Catat Gigitan HPR Capai 66.760
Baca juga: USUL 3 Calon WBTB, Bahasa Melayu Loloan Unik Khas, Jembrana Usul Angklung Reyong dan Arja Sewagati
Koreksi harga juga terjadi pada komoditas hortikultura. Bawang merah turun 1,68 % menjadi Rp 43.427 per kg, dan bawang putih bonggol turun 0,68 % ke Rp38.228 per kg.
Harga cabai mengalami penurunan lebih dalam, dengan cabai merah keriting turun 3,07 % menjadi Rp 41.680 per kg, cabai merah besar turun 4,04 % ke Rp 38.430 per kg, serta cabai rawit merah turun 2,99 % menjadi Rp 55.190 per kg.
Pada kelompok protein hewani, daging sapi murni tercatat Rp 134.967 per kg, turun 0,27 % , daging ayam ras berada di Rp 39.187 per kg, turun 0,29 % , dan telur ayam ras turun 0,14 % menjadi Rp 31.111 per kg. Di sisi lain, jagung tingkat peternak justru mengalami kenaikan 2,51 % ke level Rp 7.052 per kg.
Ketua DPW Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DKI Jakarta, Ngadiran, mengatakan tren penurunan harga tersebut mencerminkan kondisi pasar yang jauh lebih stabil dibandingkan tahun lalu.
Menurutnya, tidak terdapat tekanan signifikan baik dari sisi permintaan maupun pasokan.
“Kalau dibandingkan tahun lalu, sekarang lebih tenang dan tidak bergejolak. Harga tidak naik-naik amat, bahkan beberapa komoditas turun,” ungkapnya, Jumat (9/1).
Ngadiran menambahkan, kenaikan harga yang sempat terjadi, khususnya pada beras, lebih dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah melalui penetapan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah untuk menjaga tingkat pendapatan petani.
Ia menegaskan, secara pasokan nasional kondisi pangan masih aman bahkan cenderung berlebih, wl distribusi di sejumlah daerah terdampak bencana sempat terkendala faktor logistik. (kontan)
| BANK Mandiri Region XI/Bali &Nusa Tenggara Gelar Donor Darah, Rangkul 4.850 Pendonor Secara Nasional |
|
|---|
| OJK Dorong Penguatan Industri, Jumlah BPR di Bali Jadi 121 dan 1 BPRS, Simak Alasannya Berikut Ini |
|
|---|
| IMPIAN Made Arya Amitaba Balance Bisnis & Transformasi Budaya, GPS Beri Pesan Lawar & Kepemimpinan! |
|
|---|
| Percepat Penjaminan Kecelakaan Kerja, BPJS Ketenagakerjaan & Jasa Raharja Integrasi Aplikasi Layanan |
|
|---|
| MENKOP: Seluruh Pengurus Koperasi & Kopdes Merah Putih Ditarget Miliki Perlindungan BPJamsostek! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Ilustrasi-pasar-Harga-Bahan-Pokok-Bali-25-Oktober-Daging-Ayam-Naik.jpg)