Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bisnis

IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas, Ini Sebabnya!

Sentimen tersebut diperkirakan akan turut memengaruhi arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Tribun Bali/KONTAN/CHEPPY A. MUCHLIS
BURSA EFEK - Suasana main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. IHSG diprediksi cenderung bergerak terbatas dalam fase konsolidasi di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi. 

TRIBUN-BALI.COM - Pelaku pasar saat ini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pada 21–22 April 2026, terutama terkait keputusan suku bunga acuan. Sentimen tersebut diperkirakan akan turut memengaruhi arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan menjelang RDG BI, IHSG cenderung bergerak terbatas dalam fase konsolidasi di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi, terutama Rupiah di Rp 17.158 per dolar Amerika Serikat (AS) yang sudah masuk kategori mengkhawatirkan.

“Tekanan ini tercermin dari aksi jual asing di saham bank besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI, sementara dana asing tetap masuk ke saham komoditas yang diuntungkan oleh pendapatan berbasis dolar AS,” kata Liza, Jumat (17/4).

Dihubungi terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, memprediksi pergerakan IHSG cenderung sideways dengan kecenderungan wait and see.

Baca juga: Pupuk Indonesia Bidik Peluang Ekspor Urea, Simak Beritanya!

Baca juga: ILDI Badung Gaungkan Semangat Kartini Lewat Gathering dan Aksi Sosial

“Investor saat ini menahan posisi sambil menunggu kejelasan arah kebijakan moneter, di tengah dinamika global yang masih dipengaruhi oleh arah suku bunga The Fed dan tren inflasi,” ujar Elandry.

Elandry memaparkan beberapa kemungkinan arah IHSG berdasarkan keputusan suku bunga BI. Pertama, jika suku bunga diturunkan maka akan menjadi sentimen positif bagi pasar, terutama sektor perbankan, properti, dan konsumer.

IHSG berpotensi menguat ke kisaran 7.800–8.000. Kedua, suku bunga ditahan menjadi skenario yang paling diantisipasi pasar. IHSG diperkirakan bergerak sideways di rentang 7.200–7.400 dengan rotasi sektoral terbatas.

Ketiga, apabila suku bunga dinaikkan maka berpotensi menjadi sentimen negatif jangka pendek karena meningkatkan cost of fund dan menekan daya beli, sehingga IHSG berisiko terkoreksi ke kisaran 7.300–7.500. 

Sementara itu, Liza berpendapat hanya ada dua skenario yang relevan saat ini. Pertama, jika BI menahan suku bunga, IHSG berpotensi bergerak di kisaran 7.400–7.700 dengan volatilitas tinggi.

Kedua, jika BI menaikkan suku bunga, pasar berisiko terkoreksi ke  bawah 7.300–7.250 karena tekanan likuiditas dan kekhawatiran stabilitas makro.

Kenaikan suku bunga akan menjadi sentimen negatif bagi pasar karena selain meningkatkan cost of fund dan menekan valuasi, juga mengirim sinyal bahwa stabilitas Rupiah menjadi prioritas utama di tengah tekanan global. 

Oleh karena itu, strategi investor sebaiknya tetap defensif, wait and see atau akumulasi selektif pada saham likuid, khususnya yang memiliki eksposur dolar AS sambil mencermati arah Rupiah, yield global, dan komunikasi kebijakan BI ke depan.

Elandry ikut menyarankan agar investor ntuk tetap selektif dan defensif dalam jangka pendek. Adapun sektor yang perlu diperhatikan meliputi, perbankan yaitu sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Selain itu properti dan konstruksi yang berpotensi diuntungkan jika suku bunga turun, dan consumer yang dipengaruhi daya beli masyarakat serta komoditas yang relatif lebih tahan terhadap perubahan suku bunga domestik. (kontan)

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved