Bisnis
PLN EPI Hadapi Bangun Ekosistem Biomassa agar Lebih Banyak Masuk ke Pembangkit Nasional
Private sector disebut telah mengekspor pome, cangkang sawit, pelet, dan bahan baku kayu untuk kebutuhan co-firing ke Jepang, Eropa, dan China.
TRIBUN-BALI.COM - Pasar biomassa Indonesia ternyata sudah bergerak lebih cepat, dari yang terlihat di permukaan.
Private sector disebut telah mengekspor pome, cangkang sawit, pelet, dan bahan baku kayu untuk kebutuhan co-firing ke Jepang, Eropa, dan China.
Fakta itu diungkap Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Hokkop Situngkir, dalam wawancara dengan Tribunnews di Kantor PLN EPI, Centennial Tower Lantai 8, Jakarta, pada 13 April 2026.
Di saat pasar luar negeri sudah menyerap pasokan, PLN EPI justru sedang membangun ekosistem agar biomassa dalam negeri bisa lebih banyak masuk ke pembangkit nasional.
Baca juga: HARGA Beras Lokal Naik, Harga Pangan Klungkung &Jembrana Stabil, Pasca Kenaikan BBM &LPG Non Subsidi
Baca juga: Harga Minyak Goreng di Jembrana Naik Rp20 Ribu Per Pack, Naik Rp2-5 Ribu Per Botol
“Kita sudah ekspor juga. Indonesia beberapa private sector sudah ekspor juga,” kata Hokkop. “Sudah ada eksportir pome juga, eksporter cangkang juga, eksporter pellet juga,” sebutnya.
Menurut Hokkop, bahan baku biomassa Indonesia sudah diambil untuk kebutuhan luar negeri, terutama negara-negara yang juga menjalankan co-firing atau butuh bahan baku hayati untuk transisi energi.
Kondisi itu menunjukkan satu hal, sumbernya ada, pasarnya ada, tetapi ekosistem domestik belum sepenuhnya terkunci. Ia memperkirakan ekspor biomassa dan turunannya dari Indonesia, sudah menyentuh kisaran 10 juta ton hingga 12 juta ton pada 2025.
Angka itu jauh lebih besar dibanding serapan PLN EPI, yang menurut dia masih kecil jika dibandingkan total potensi biomassa dari kategori limbah.
“Di tahun kemarin itu kita hitung-hitung sudah menyentuh angka 10 sampai 12 juta ton di tahun 2025 di ekspor. Kita masih deploy itu kecil banget,” ujarnya.
Hokkop menyebut, dari hitungan yang dibandingkan dengan data Bappenas, Kementerian Lingkungan Hidup, dan mitra swasta, total biomassa yang bisa dimanfaatkan dari waste saja mencapai sekitar 80 juta ton per tahun. Yang terserap ke PLN EPI baru sekitar 5 persen.
Situasi itu membuat PLN EPI memilih satu respon, berdiri di tengah sebagai pembentuk ekosistem. Bahan baku yang tersebar dikumpulkan, diproses, lalu diarahkan ke kebutuhan domestik, baik untuk co-firing PLTU maupun pengembangan bioenergi di pembangkit gas dan diesel.
“Tinggal teknik kita sebagai PLN EPI itu adalah membuat ekosistemnya. Jadi kita ambil di tengah, kita grab, kita bentuk ekosistemnya, baru kita deploy ke pembangkit kita,” kata Hokkop.
Pesan yang hendak dibangun PLN EPI cukup jelas. Biomassa Indonesia jangan hanya berhenti sebagai komoditas ekspor. Pasokan itu harus juga dipakai untuk menekan ketergantungan pembangkit domestik pada bahan bakar fosil. (*)
| TARGET Ekspor Kopi 2026 Hanya 360.000 Ton, Simak Alasannya Berikut Ini |
|
|---|
| POLEMIK BBM & Minyak Dunia, Pasar Kendaraan Listrik Tumbuh 25 Persen di Indonesia, Ini Alasannya! |
|
|---|
| Simpanan Kelas Menengah Bawah Meningkat 3 Persen, Tapi Penarikan Dana Juga Ada |
|
|---|
| WADUH! Harga Beras dan Migor Naik Tajam, Komoditas Hortikultura dan Protein Hewani Terkoreksi |
|
|---|
| IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas, Ini Sebabnya! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Hokkop-Situngkir-Direktur-Biomassa-PT-PLN-Energi-Primer-Indonesia-PLN-EPI.jpg)