Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bisnis

WADUH, Biaya Produksi Otomotif Naik, Terdampak Nilai Tukar Rupiah

Kondisi ini berdampak langsung pada struktur biaya, khususnya untuk bahan baku dan komponen yang masih didatangkan dari luar negeri.

Tribun Bali/DOK/ADM VIA KONTAN
PRODUKSI - Suasana produksi mobil di Karawang Assembly Plant 2 (KAP 2) PT Astra Daihatsu Motor (ADM) di Kawasan Industri Surya Cipta, Karawang Timur, Jawa Barat. 

TRIBUN-BALI.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir, yang menembus kisaran Rp 17.000 per dollar AS, turut memberi tekanan pada industri otomotif nasional.

Kenaikan biaya produksi menjadi konsekuensi yang dihadapi pelaku industri, seiring masih adanya ketergantungan pada material dan komponen impor.

Presiden Direktur Astra, Rudy, mengatakan, tekanan terhadap biaya produksi tidak bisa dihindari ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap mata uang asing.

Kondisi ini berdampak langsung pada struktur biaya, khususnya untuk bahan baku dan komponen yang masih didatangkan dari luar negeri.

Baca juga: POLSEK Sukawati Patroli Kawasan Rawan Longsor, Cegah Korban Jiwa Jika Terjadi Bencana di Gianyar

Baca juga: TRAGEDI Kebakaran di Club Med Bali Hanguskan Bangunan Agung Restoran, Kerugian Capai Rp5 Miliar

“Pelemahan rupiah tentu akan berdampak ke on-cost produksi kita,” ujar Rudy dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Astra 2026, Kamis (23/4).

Menurut dia, meskipun industri otomotif dalam negeri telah mengembangkan tingkat kandungan lokal, sejumlah komponen dan material tertentu masih terpengaruh fluktuasi nilai tukar. Hal ini membuat biaya produksi menjadi lebih sensitif terhadap pergerakan kurs.

Sejumlah komponen seperti semikonduktor, sistem elektronik, hingga material khusus umumnya masih bergantung pada impor, sehingga membuat biaya produksi industri otomotif sensitif terhadap pergerakan nilai tukar.

Namun demikian, Rudy menilai Astra masih memiliki daya tahan untuk menghadapi tekanan tersebut. Hal ini ditopang oleh ekosistem bisnis yang terintegrasi, mulai dari distribusi, layanan purna jual, hingga pembiayaan, yang dinilai mampu menjaga keseimbangan kinerja di tengah tekanan eksternal. 

“Untungnya kita punya ekosistem yang cukup lengkap, distribusi, retail dan sebagainya, sehingga ketahanan kita lebih tinggi, karena kita bisa membalance satu sama lain,” kata Rudy.

Di tengah dinamika tersebut, pelaku industri dituntut untuk lebih adaptif dalam mengelola biaya dan menjaga efisiensi operasional.

Dengan kondisi makroekonomi yang masih berfluktuasi, strategi menjaga keseimbangan antara biaya dan daya beli konsumen menjadi kunci bagi keberlanjutan industri otomotif ke depan. (kontan)

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved