Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

bisnis

Perusahaan Fintech Kecil Tertekan Modal dan Pendanaan, Simak Alasannya

Alhasil, fintech dengan skala kecil lebih kesulitan menjaga profitabilitas dan ekuitas meskipun secara umum pasar masih tumbuh positif.

Tayang:
Tribun Bali/KOMPAS/PRIYOMBODO
JAGA STAN - Pramuniaga menjaga stan salah satu industri teknologi finansial atau tekfin dalam Indonesia Fintech Summit and Expo di Mal Kota Kasablanka, Jakarta. 

TRIBUN-BALI.COM - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, masih ada 11 penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending yang belum memenuhi ketentuan ekuitas minimum Rp 12,5 miliar per Maret 2025.

Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi menilai kondisi tersebut merupakan sinyal bahwa pertumbuhan penyaluran pinjaman tidak selalu selaras dengan kondisi kesehatan keuangan perusahaan.

Menurutnya, banyak perusahaan fintech menghadapi berbagai tekanan bisnis, mulai dari tingginya biaya akuisisi pengguna, gagal bayar pinjaman, hingga beban operasional yang besar.

Di sisi lain, pertumbuhan industri justru lebih dinikmati oleh pemain besar yang memiliki ekosistem kuat, teknologi lebih matang, dan akses modal lebih besar. 

Baca juga: Pemesanan Tiket Transportasi Tumbuh Lebih dari 50 Persen

Baca juga: HARGA Fluktuatif, Harga Beras Kualitas Bawah Turun 2,75 Persen, Cabai Merah Jadi Rp55.200 Per Kg!

Alhasil, fintech dengan skala kecil lebih kesulitan menjaga profitabilitas dan ekuitas meskipun secara umum pasar masih tumbuh positif. “Fintech kecil menghadapi biaya dana lebih mahal, risiko kredit lebih tinggi, serta kesulitan memperoleh investor baru,” jelasnya, Jumat (15/5).

Selain itu, ia juga mencermati perihal regulasi industri fintech yang makin ketat turut membuat kebutuhan modal dan kepatuhan meningkat, sehingga terjadi kesenjangan daya tahan bisnis antara pemain besar dan kecil dalam industri fintech nasional.

Katanya, perusahaan fintech perlu memperkuat kualitas pembiayaan dan manajemen risiko agar rasio gagal bayar tetap terkendali.

Selain itu, efisiensi operasional juga perlu ditingkatkan, termasuk mengurangi biaya akuisisi pengguna yang terlalu agresif. Ia juga menyoroti pentingnya diversifikasi produk dan kolaborasi dengan perbankan maupun ekosistem digital guna memperluas sumber pendapatan perusahaan.

Kendati ekosistem industri dibayang-bayangi tekanan modal, salah satu pemain fintech P2P lending, Amartha memastikan hingga kini kondisi ekuitas di perusahaan mereka berada dalam posisi yang sehat.

“Amartha memiliki fondasi bisnis, pengalaman operasional, serta pemahaman pasar yang kuat untuk terus bertumbuh secara berkelanjutan,” ujar VP Public Relation Amartha, Harumi Supit.

Sejalan dengan Heru, Harumi memastikan bahwa perusahaan akan terus menjaga dan memperkuat ekuitas melalui sejumlah upaya.

Termasuk di antaranya adalah penguatan fundamental bisnis, menjaga kualitas portofolio, memperluas kolaborasi strategis, hingga membangun ekosistem keuangan digital yang inklusif. (kontan)

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved