LSD di Bali

Sapi Gianyar Bali Bebas Kasus LSD, Distanak Perketat Pengawasan

penyakit LSD secara umum mudah ditangani, asalkan peternak rajin membersihkan kandang dan mengurangi potensi berkembangnya lalat. 

Istimewa
Ternak sapi: Sapi Gianyar bebas kasus LSD, Distanak perketat pengawasan. Sapi Gianyar Bali Bebas Kasus LSD, Distanak Perketat Pengawasan. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Beternak sapi selama ini menjadi salah satu cara petani di Kabupaten Gianyar, Bali memanfaatkan lahan persawahannya agar lebih produktif. 

Sebab harga sapi selalu mengalami peningkatan, sangat cocok dipakai sebagai investasi jangka panjang.

Namun demikian, peternak pun terus dibuat cemas, karena selalu ada penyakit baru yang membahayakan keselamatan sapi. 

Seperti saat ini, peternak sapi diresahkan penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada sapi. 

Baca juga: Kementan Salurkan Ratusan Vaksin LSD ke Jembrana Bali, Peternak Diminta Jaga Kebersihan Kandang

Yakni penyakit menular yang ditandai benjolan di kulit, demam, lesu, dan penurunan produksi susu, disebabkan oleh virus Lumpy Skin Disease (LSDV), menular lewat serangga (nyamuk, lalat, caplak) dan kontak langsung, serta menimbulkan kerugian ekonomi besar meski tidak menular ke manusia.

Kondisi ini pun telah menjangkiti sapi di luar Gianyar. Salah satunya di Jembrana, Bali.

Sementara di Gianyar, Kabid Kesehatan Hewan Distannak Gianyar, I Made Santiarka saat dikonfirmasi Senin 19 Januari 2026 mengatakan, bahwa sampai saat ini di Gianyar belum ditemukan sapi yang terjangkit LSD

Meski demikian, pihaknya tidak mengendurkan kewaspadaan terhadap kasus tersebut.

Dalam mencegah penyakit tersebut, ia mengimbau agar peternak sapi atau kerbau agar menjaga kebersihan kandang, lantai kandang bersih dan penyemprotan dengan desinfektan secara rutin. 

"Kebersihan kandang sangat diperlukan untuk menghindari ternak dari virus atau penyakit menular," ujarnya.

Santiarka mengatakan, penyakit LSD secara umum mudah ditangani, asalkan peternak rajin membersihkan kandang dan mengurangi potensi berkembangnya lalat. 

"Bila ditemukan sapi benjolan atau korengan, maka segera laporkan ke UPT Keswan, agar bisa secepatnya diberikan penanganan," ujarnya.

Selain menjaga kondisi kandang tetap bersih, antisipasi LSD juga dilakukan dengan cara meminta peternak untuk tidak membeli bibit sapi dari daerah terjangkit, atau sudah mendapatkan hasil pemeriksaan dari dokter hewan. 

Dengan demikian, diharapkan Gianyar dapat tetap bebas dari kasus LSD.

Terkait populasi sapi saat ini, Santiarka mengungkapkan jumlahnya sekitar 49.500 ekor. 

Jumlah ini terus mengalami fluktuasi karena sebagian adalah sapi potong. 

Sapi potong Gianyar diminati provinsi lain, karena selain sehat dan dagingnya empuk juga terbebas dari penyakit PMK. (*)

Kumpulan Artikel Gianyar

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved