Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Griya Style

Alami Pakai Tanah Taro, Tembok Lebih Kokoh dan Kuat

Kini masyarakat di perkotaan pun ingin mendapatkan dan merasakan sensasi suasana pedesaan itu.

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN BALI/NI KETUT SUDIANI
tembok pagar dibuat dari lapisan tanah taro 

TRIBUN-BALI.COM - Penggunaan tanah taro menjadi pilihan yang banyak diminati masyarakat Bali.

Selain warnanya yang cantik dan klasik, juga cukup tahan lama. Tanah taro semakin banyak digunakan untuk melapisi bagian dinding luar sebuah bangunan.

Bangunan rumah tradisional masyarakat Bali, terutama di daerah pedesaan, lebih banyak menggunakan tanah yang dicepol begitu saja.

Apabila diperhatikan, sisa-sisa bangunan yang masih dipertahankan itu justru terasa adem dan unik.

Kini masyarakat di perkotaan pun ingin mendapatkan dan merasakan sensasi suasana pedesaan itu.

Misalnya seperti yang dilakukan warga Banjar Mertayasa, Denpasar Utara, Ni Nyoman Sumiati.

Keseluruhan dinding panyengker (pagar) dan angkul-angkul (gerbang utama) rumah miliknya dilapisi tanah taro sehingga terlihat lebih kokoh dan kuat.

Tampak goresan vertikal mengikuti bentuk kotak persegi panjang menyerupai bahan batako. Sementara itu di bagian dalam kotak-kotak terdapat garis-garis miring.

Goresan tersebut diberikan untuk menghindari kesan kaku. Untuk menambah kekhasan, tumbuhan rambat dibiarkan menempel pada beberapa bagian dinding. Kesan alamipun tampak semakin kuat.

"Penggunaan tanah taro memang lebih unik dan sangat alami kelihatannya. Walaupun sebenarnya dari segi harga lebih mahal bisa sampai empat kali lipat dibandingkan yang biasa," ucap Sumiati, Sabtu (14/3/2015).

Saat ditanya berapa harga pastinya, Sumiati tidak bisa menyebutkan harganya. Ia hanya menyampaikan biasanya bisa dibeli dalam jumlah karungan.

Tanah taro dapat dibeli di Desa Taro, Gianyar. Mengenai cara perawatan, tidak ada hal khusus yang perlu dilakukan.

Namun Sumiati menekankan, apabila lapisan yang diberikan tidak tebal, akan mudah menipis, terutama saat terus-menerus terkena air hujan dan segatan matahari.

"Sebenarnya lapisan dinding ini tidak begitu tebal karena harganya yang lumayan mahal. Secukupnya saja," imbuh Sumiati.

Bagian dalam dinding tetap menggunakan batako biasa. Garis-garis di dinding sesungguhnya ditarik mengikuti bentuk batako itu.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved