Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Nilai Tukar Rupiah

Rupiah Jeblok Lagi, Kurs Rupiah Melemah 0,84 Persen, Cadangan Devisa Turun 5 Bulan Beruntun

Rupiah melemah bersama sejumlah mata uang Asia. Ringgit Malaysia paling tertekan dengan pelemahan 1,07 persen

Tayang:
Istimewa/generated AI
Ilustrasi uang by AI - Rupiah Jeblok Lagi, Kurs Rupiah Melemah 0,84 Persen, Cadangan Devisa Turun 5 Bulan Beruntun 

Pada saat yang sama, pasar juga mulai menilai bahwa risiko geopolitik dan lonjakan harga minyak telah mendekati puncaknya.

Meski peluang stabilisasi terlihat, terlihat pemulihan rupiah tetap memiliki syarat yang sangat jelas, yaitu tidak muncul penurunan peringkat atau revisi outlook lanjutan dari lembaga pemeringkat internasional.

“Karena itu, saya tidak akan terkejut apabila rupiah masih bertahan di atas Rp 18.000 dalam beberapa waktu ke depan. Skenario penguatan yang lebih berarti menuju kisaran Rp 17.000-an hanya akan realistis jika kepercayaan terhadap kredibilitas fiskal dan kebijakan pemerintah kembali pulih,” ujar Yusuf, Jumat 5 Juni 2026.

Ia menambahkan, ada beberapa faktor saling berkaitan yang membuat rupiah tertekan akhir-akhir ini. Pertama adalah faktor kepercayaan.

Setelah lembaga pemeringkat Moody's pada Februari 2026 merevisi outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif membuat pasar mulai mempertanyakan prediktabilitas kebijakan dan kualitas tata kelola.

“Oleh karena itu, isu yang berkembang bukan lagi apakah Indonesia mampu tumbuh, melainkan apakah kredibilitas kebijakannya masih cukup kuat untuk menjaga kepercayaan investor,” kata Yusuf.

Kedua, kondisi tersebut memicu arus keluar modal asing yang cukup besar dari pasar saham maupun obligasi.

Ketika investor meminta premi risiko yang lebih tinggi, tekanan muncul secara bersamaan pada rupiah, pasar saham, dan surat utang negara.

Ketiga, situasi eksternal ikut memperberat tekanan, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan tingginya harga minyak yang kurang menguntungkan bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Dalam kondisi tersebut, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,25 persen dinilai lebih bersifat defensif untuk menjaga stabilitas nilai tukar ketimbang merespons tekanan inflasi.

Pasalnya, inflasi domestik masih relatif terkendali sehingga fokus kebijakan saat ini lebih diarahkan untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap aset keuangan Indonesia. (kontan)

Kumpulan Artikel Nasional

Sumber: Kontan
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved