Berita Tabanan
Polemik di UNESCO Jatiluwih, Mantan Bupati Tabanan: Ini Ancaman Serius
Polemik yang terjadi di kawasan The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO)
Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Polemik yang terjadi di kawasan The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) Jatiluwih, Tabanan Bali sampai belum menemukan titik terang.
Situasi semakin memanas setelah Pansus TRAP DPRD Bali menutup sejumlah bangunan liar di kawasan Jatiluwih yang salah satunya milik petani di sana.
Mereka protes dengan memasang seng dan membentangkan plastik sepanjang 40 meter di Jalan Raya Subak Jatiluwih.
Dinilai pemerintah melalui Pansus TRAP DPRD Bali tidak mempedulikan petani yang ingin mencari rejeki dengan perkembangan pariwisata.
Baca juga: PROTES Penutupan Warung di DTW Jatiluwih Tabanan, Pemilik Pasang Seng di Tengah Sawah
Menyikapi hal itu Anggota DPR RI Komisi IV, I Nyoman Adi Wiryatama angkat bicara.
Pihaknya mengakui polemik itu merupakan ancaman serius terhadap status UNESCO di Kawasan Jatiluwih Tabanan.
"Ini sudah menjadi ancaman serius terkait status UNESCO yang ada," ujarnya Minggu 7 Desember 2025.
Pihaknya mengakui status UNESCO tersebut diraih melalui perjuangan panjang.
Bupati Tabanan Periode 2000 -20210 itu mengingatkan bahwa pengakuan UNESCO tidak datang dengan mudah.
Baca juga: PEMILIK Warung Minta Keadilan, Usai Sidak Pansus TRAP Pertanyakan Masterplan DTW Jatiluwih Tabanan!
Bahkan pihaknya menegaskan bahwa gelar tersebut adalah hasil kerja panjang lebih dari 15 tahun, dimulai saat dirinya menjabat sebagai Bupati Tabanan.
"Perjuangan panjang mulai dari menjabat Bupati Kabupaten Tabanan untuk mendapatkan pengakuan UNESCO, janganlah dirusak hanya untuk kepentingan sesaat," tegasnya.
Wiryatama berharap masalah tersebut agar tidak sampai berlarut-larut.
Bahkan pihaknya meminta pemerintah, masyarakat dan pengusaha agar duduk bersama mencari solusi.
"Ini perlu mendapat solusi agar Jatiluwih tetap menjadi salah satu desa terbaik dunia. Karena pengakuan ini pariwisata bisa berkembang," ucap Adi Wiryatama.
Baca juga: 13 Bangunan Melanggar Ditutup & Terancam Dibongkar! Pansus TRAP DPRD Sidak ke DTW Jatiluwih Tabanan
Lebih lanjut Adi Wiryatama menegaskan bahwa pelestarian warisan budaya dunia harus menjadi prioritas nyata, bukan slogan semata.
Kendati demikian pihaknya juga turut mengapresiasi langkah Pansus TRAP DPRD Bali dalam mempertahankan keaslian kawasan tersebut.
"Saya mengapresiasi kerja Pansus TRAP DPRD Bali. Upaya mempertahankan warisan budaya Jatiluwih harus terus diperkuat," terangnya.
Pihaknya juga khawatir maraknya komersialisasi pariwisata, konflik kepentingan, dan tekanan pembangunan massif yang berpotensi mengubah wajah asli Jatiluwih.
Untuk diketahui, Pansus TRAP DPRD Bali menutup 13 bangunan yang melanggar jalur hijau dan sepadan jalan di kawasan Jatiluwih.
Penutupan dilakukan bersana Satpol PP Bali dengan memasangi polpp line didepan bangunan yang melanggar tata ruang Pemkab Tabanan.
Dengan penutupan itu pemilik bangunan dan sejumlah petani mulai protes dengan memasang puluhan seng di pundukan sawah mereka.
Selain itu juga membentangkan plastik sepanjang 40 meter di Jalan Subak Jatiluwih.
Untuk seng sendiri ada 30 seng dipasang di sekitar Warung Sunari yang sebelumnya ditutup oleh Pansus TRAP, kemudian, di sepanjang jalan subak sisi selatan warung juga ditancapkan 45 seng. (*)
Berita lainnya di DTW Jatiluwih
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Ketua-DPRD-Bali-I-Nyoman-Adi-Wiryatama.jpg)