youngstar
Nadya Putri, dari Rock Climbing Pingin Jadi Guru
Nadya telah mengharumkan nama Bali ke berbagai event baik nasional maupun internasioal dalam cabang panjat tebing.
Laporan Wartawan Tribun Bali: Marianus Seran
TIDAK terbayang sebelumnya oleh Nadya Putri Virgita bakal menjadi seorang atlet panjat tebing (rock climbing). Apalagi akan menjadi atlet, bergelantungan memanjat dinding berbagai event dari negara ke negara. Yang menjadi impian gadis kelahiran Sidoarjo, 20 September 1994 ini adalah menjadi seorang atlet cabang atletik. Namun itulah yang sekarang dilakoni Nadya, mengharumkan nama Bali ke berbagai event baik nasional maupun internasioal dalam cabang panjat tebing.
Nadya awalnya menekuni olahraga atletik sejak SD di SDN 6 Panjer Denpasar. Namun karena melihat kakaknya, Yan Pinus Sagita yang juga seorang atlet panjat tebing, selalu juara, Nadya akhirnya tertarik untuk berlatih panjat tebing. Dua cabang olahraga ditekuni sekaligus.
"Di tahu 2007, paginya saya berlatih atletik dan sore berlatih rock climbing. Karena melihat kakak selalu juara climbing dan mendapat hadiah, akhirnya saya memilih panjat tebing," ungkap anak kedua dari dua bersaudara pasangan Sugito dan Wuri Ndari Widayanti ini.
Sejak itu, Nadya fokus berlatih dan dibina langsung oleh sang kakak, Yan Pinus Sagita. Kejuaraan diikuti mulai duduk di kelas 6 SD. Awalnya takut, namun terus diarahkan oleh sang kakak hingga Nadya bisa mengatasi ketakutannya.
Awalnya, Nadya turun di katagori speed. Namun karena kecepatannya mulai menurun seiring bertumbuhnya tubuh, dia lebih memilih katagori boldering dan lead.
Berkat kegigihannya, Nadya menorehkan sejumlah prestasi yang mengharumkan nama Bali. Di bawah bendera FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) Nadya tahun 2006 meraih medali emas di Asean Youth Cup tahun. Medali perak di Kejurnas Bali katagori speed, Medali emas Kejurnas Senior di Jogjakarta tahun 2008 katagori speed dan lead.
Kemudian tahun 2009, Nadya meraih medali emas pada Kejuaraaan Asia di Singapura. Kala itu dia turun di katagori bolderring. Tahun 2010 pada Kejurnas Senior, Nadya turun berlomba di tiga katagori dan membawa pulang medali. Dia sumbang satu emas dari katagori lead, satu perak untuk katageri speed dan perunggu dari katagori bolder.
Prestasi itu belum termasuk event di dalam negeri semisal PON. Beberapa kali Nadya meraih medali di ajang tahun olahraga Indonesia itu. Kini Nadya sedang berada di Bangkok mempersiapkan diri mengikuti Kejuaraan Asian Champion Shep di Lombok tahun ini. Bangkok menjadi negera tujuannya berlatih dan mengikuti kejuaraan sebagai ajang try out.
Prestasi yang diukir Nadya itu, kini telah mengubah hidupnya. Berbagai bonus dan sponsor telah diterimanya. Keinginan alumni SMAN 7 Denpasar ini untuk memiliki rumah tinggal sendiri, akan segera terwujud. Sebidang tanah di wilayah Ubung, Denpasar seharga Rp 300 juta dibelinya dari tabungan hasil kejuaraan. Tak lama lagi, mahasiswi semester II IKIP PGRI Bali ini akan membangun rumah impiannya.
"Saya memiliki hobi lain yakni cari dan kumpulin duit," seloroh Nadya.
"Tanah yang saya beli tidak terlalu luas. Tanah itu di wilayah Kota Denpasar. Itu hasil dari bonus SEA Games tahun 2011, PON 2012, kejuaraan dunia. Selain itu dukungan sponsor di dalam negeri dan luar indonesia," ungkap Nadya.
Di balik kekokohan tubuhnya, Nadya punya cita-cita mulia setelah nanti sudah tidak menjadi atlet. Nadya ‘hanya’ ingin menjadi seorang guru. Guru olahraga SD. Makanya, kini Nadya kuliah di IKIP. Profesi guru yang melayani ini ingin diemban karena kesukaannya mengajari orang lain.
"Menjadi guru olahraga SD adalah cita-cita. Saya senang ajarin orang lain. Berbagai ilmu dengan mereka. Pengalaman berlatih dan ikut kejuaraan panjat tebing berbagi juga untuk junior," pungkasnya. (rik)
Berjuang dalam Cedera