Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dokar Masih Menjadi Transportasi Alternatif

Sebagai alat transportasi tradisional, Dokar masih saja dibutuhkan warga di Negara.

Tayang:
Editor: imam hidayat

 

Sebagai alat transportasi tradisional, Dokar masih saja dibutuhkan warga di Negara. Selain mampu mengangkut banyak barang, dokar dipilih juga karena angkot tak melintas di beberapa jalur tertentu.

 

TUK tik tak tik tok. Demikian suara tersebut terdengar saat seorang kusir memberikan aba-aba kepada kuda untuk mulai berjalan menggerek sebuah Delman beroda dua. Suara tersebut terdengar semakin santer ketika kuda itu mulai berlari.

Kuda yang berwarna dominan cokelat tua dan putih itu menggerek delman berwarna hitam dengan peleng ban warna putih. Saat itu dikendarai oleh seorang kusir berkaus hitam dan bertopi merah. Ia bernama Selamet (57) dengan seorang penumpang yang baru saja membeli beberapa ember di Pasar Umum Negara bernama Artati (40).

Orang-orang di Negara biasa memanggil delman ini dengan sebutan dokar. Kereta yang ditarik seekor kuda tersebut berjalan dari Pasar Umum Negara (Jalan Gatot Subroto) melewati Jalan Mangga, lalu sampai ke rumah Artati yang berada di Kelurahan Loloan Barat, Kecamatan Negara.

Selamet mengatakan bahwa ia sudah lama menjadi seorang kusir. Ia pun mengatakan, ongkos untuk menumpangi dokar tersebut tergantung dari jarak tempuh dan bisa dinego sesuai dengan kesepakatan bersama.

"Sudah puluhan tahun saya menjadi kusir dokar," ujarnya.

Sembari mengingat masa kejayaan dokar, Selamet mengatakan bahwa dulu transportasi dokar sangat banyak ada di Jembrana. Kala itu peminat dokar sangat banyak. Namun, sekarang seiring perkembangan teknologi transportasi modern, dokar kini hanya menjadi transportasi alternatif saja. Di kawasan Pasar Umum Negara saja, tinggal sekitar tujuh buah dokar yang setiap harinya beroperasi.

Ia katakan, peminat terhadap transportasi dokar saat ini menurun drastis. Dalam sehari, ia hanya mendapatkan satu-dua penumpang saja.

"Per hari sih dapatnya sedikit. Cukup buat beli makan saja. Hari ini saja dapat Rp 20 ribu," ujarnya.

Ia juga mengatakan, dirinya berangkat dari rumah sejak pukul 08.00 Wita. Dan baru pulang sore hari. Guna menutupi kekurangan pendapatannya, terkadang ia menerima permintaan warga yang mengadakan hajatan (sunatan atau nikahan) untuk menyewa dokarnya tersebut.

"Tapi kalau hujan tidak beroperasi," ujarnya sembari melempar senyum.

Penghasilannya baru lumayan bagus, tatkala dokarnya disewa untuk hajatan atau arak-arakan. "Kadang itu ada orang nikahan atau sunatan yang menyewa dokar. Jadi dokarnya dihias. Lumayanlah, untuk menyewa satu dokar Rp 300 ribu," katanya.

Namun ditengah kembang-kempisnya transportasi tradisional dokar ini, ada beberapa warga yang masih membutuhkan jasa angkutan dokar ini. Seperti Artati. Menurut Artati, dirinyaa acap kali menggunakan jasa transportasi dokar tersebut. Alasannya praktis, selain jalur menuju rumahnya tak dilalui angkutan kota (angkot), ia juga membawa banyak barang belanjaan.

"Berangkat ke pasar kadang naik ojek atau diantar. Kalau pulangnya biasanya naik dokar. Bawa barang banyak," ujarnya (masnurul hidayat)

 

Sumber: Tribun Bali
Tags
Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved