Pesta Kesenian Bali ke 36
Jogeg Bumbung Klasik Munduk Ramaikan PKB
Tidak ada gerakan-gerakan erotis dalam penampilan kami. Semuanya sesuai pakem-pakem Joged yang sebenarnya,"
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Ketut Sudiani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Empat penari Jogeg Bumbung dari Sanggar Tri Pitaka, bergantian membawakan joged klasik khas Desa Munduk, Kabupaten Buleleng. Tidak sebagaimana pandangan orang-orang akan joged yang erotis. Mereka justru mempertunjukan joged klasik yang telah tercipta sejak 1945 silam.
"Tidak ada gerakan-gerakan erotis dalam penampilan kami. Semuanya sesuai pakem-pakem Joged yang sebenarnya," kata koordinator Sanggar, I Putu Putrawan, pada Tribun Bali, Rabu (25/6).
Selama pementasan yang berlangsung sekitar satu jam itu, memang tidak terlihat ada gerakan-gerakan erotis atau seronok. Masing-masing penari menarikan sebagaimana pakem yang ada.
Sebelum para lelaki mulai ngibing, penari joged akan melingkarkan selendang pada pinggang pengibing, bersalaman sebanyak tiga kali, dan selama menari tetap menjaga jarak sebagaimana kepatutan.
Tidak tanggung-tanggung, mereka juga dengan spontan menambahkan lelucon yang membuat penonton tertawa hingga terpingkal-pingkal. Hanya sesekali ada pengibing yang menyelipkan uang ke tangan penari joged itu.
Di samping itu, hanya satu dua pengibing yang nakal, mencoba berada terlalu dekat dengan penari.
Sedikit berbeda dengan pertunjukan lainnya yang ditampilkan selama hampir dua pekan di PKB ini. Penonton joged bumbung siang itu memang sangatlah banyak, bahkan beberapa penonton sampai duduk di pinggir panggung dan di pintu pasuk para penari. Mereka rela berdesak-desakkan.
Sebagai pengiring tarian joged, ada lima tetabuhan yang ditampilkan di antaranya tabuh kreasi Sardula Angipuh, Sekar Sandat, Chandra Meru, Puspa Winangun, dan Tunjung Mekar. Kelima tetabuhan itu hasil cipta seniman senior, I Made Terip.
Putrawan menjelaskan sesungguhnya tidak ada persiapan khusus untuk pementasan ini karena para penari yang tergabung di sanggar yang diasuhnya sudah beberapa kali pentas.
"Jadi terus saja berlanjut, menari dari satu tempat ke tempat lain," katanya.
Menurutnya, hingga saat ini joged bumbung masih digemari masyarakat Bali, khususnya Buleleng. Tari pergaulan itu sifatnya menghibur. Masyarakat dengan bebas dapat mengekspresikan diri mereka.
"Memang sering ada berita miring tentang penari joged yang erotis. Tetapi tidak semuanya begitu. Sanggar kami tidak pernah menari seperti itu. Kami berpedoman pada pakem yang sudah ada, pada apa yang sudah diciptakan penglisir. Jadi hanya meneruskan dan mengarahkan saja. Andaipun ada kreasi, hanya sebatas pakaiannya saja," jelas Putrawan yang juga seorang penabuh dan pencipta lagu.
Tampil di Eropa
Meskipun tetap berpegang pada tradisi lama, namun Putrawan tidak merasa takut kalau ia akan kalah bersaing dengan sanggar-sanggar penari joged bumbung lainnya. Para penari yang ditampilkan siang itu menurutnya adalah penari pilihan yang sudah berpengalaman.
"Saya tidak takut, justru dengan mempertahankan joged klasik, kami memiliki ciri khas. Pada 1998, justru karena joged klasik inilah, kami diundang hingga ke Eropa. Kami hanya ingin melestarikan yang sudah ada," ucapnya.
Pengamat seni dan guru besar ISI Denpasar, Prof Dr I Wayan Dibia MA mengatakan, memang kadang penari joged dan penabuh tidak berasal dari satu sanggar, sehingga kemungkinan terjadinya penyimpangan, muncul gerakan-gerakan yang erotis.
"Para penabuh juga harus hati-hati memilih penari, jangan sampai ada penari yang menunjukkan gerakan seksualitas. Hal ini tentu akan merusak reputasi sanggar itu sendiri," jelasnya pada awak media di sela-sela pertunjukan.
Dibia menekankan, apabila masih ada penari seperti itu, ada wadah Majelis Utama Desa Pakraman yang bisa mengambil tindakan. "Apabila joged tetap dipertahankan sebagaikan spirit awalnya, saya yakin, ke depannya ia akan terus terkenal," tegasnya. (*)