Pesta Kesenian Bali ke 36
Angklung Klasik Pengabenan, Tetabuhan Manuk Dewata Sarat Kedamaian
Para penabuh laki-laki dari Desa Sidan, Gianyar, dalam balutan pakaian madya Bali warna putih, berdiri sambil membawa instrumen tetabuhan mereka.
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Ketut Sudiani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Para penabuh laki-laki dari Desa Sidan, Gianyar, dalam balutan pakaian madya Bali warna putih, berdiri sambil membawa instrumen tetabuhan mereka.
Tak lama berselang, terdengar paduan suara antara angklung, kendang, gong, dan alat musik tradisi lainnya.
Penabuh yang tergabung dalam Sekaa Angklung Wija Kesuma itu memainkan angklung yang telah berusia 97 tahun.
Begitu berbeda dengan penampilan tetabuhan hari-hari sebelumnya. Kali ini musik yang ditampilkan lebih bernuansa kesunyian, mengingatkan penonton akan prosesi pengabenan.
"Biasanya tetabuhan angklung klasik ini dimainkan untuk upacara pengabenan (pembakaran mayat). Semua alat-alat ini sudah ada sejak 1917 dan tidak pernah dimodifikasi," ucap I Nyoman Togog, pembantu Kelian Desa Sidan saat ditemui Tribun Bali, Kamis (26/6/2014).
Sore itu, para penabuh yang jumlahnya 24 orang, mengawali pementasan dengan tabuh pemungkah. Dalam seni karawitan Bali, tabuh pemungkah dimainkan guna memohon agar upacara agama yang diiringi dapat berjalan dengan baik.
Selanjutnya, sebagaimana ritual ngaben, dimainkan tabuh kedas lemah, tepatnya saat kedas lemah (fajar), dilangsungkan prosesi nguyeg (menggosok tulang yang telah menjadi abu). Melodi yang dimainkanpun cenderung khusuk dan tenang.
"Dari segi bebunyian, memang ada perbedaan dengan sekaa lain yang juga memainkan alat serupa ini. Suaranya lebih besar dibandingkan dengan angklung lainnya. Daunnya ada empat," tambah Togog.
Sekaa arahan I Wayan Japa ini, selain menghadirkan para penabuh senior, mereka juga melibatkan anak-anak muda.
"Tapi sebenarnya tetabuhan ini juga bisa untuk upacara pitra yadnya lainnya dan dimainkan di pura-pura," kata Togog yang pada destarnya diselipkan bunga pucuk bang, bunga yang biasa digunakan untuk upacara keagamaan.
Kisah Janda Sakti
Melengkapi prosesi upacara pengabenan, Sekaa Wija Kusuma juga memainkan tabuh Manuk Dewata yang sarat dengan kedamaian. Sebuah prosesi di mana sanak saudara berharap agar sang atma menyatu dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan).
Dilanjutkan dengan tabuh Sidaning Don dan diakhiri dengan Tabuh Calonarang. Sesungguhnya kisah Calonarang tidaklah berkaitan langsung dengan upacara pengabenan. Ia menceritakan kisah janda sakti dari desa Dirah yang dituduh menganut ilmu hitam. Tetabuhan terakhir ini lebih bernuansa mencekam.
Sedari awal hingga akhir pertunjukan, sekaa Angklung Wija Kesuma memainkan tetabuhannya dengan tenang, tanpa ada gerakan-gerakan setingan. Bahkan seorang penabuh yang sudah cukup berusia, memainkan kendangnya dengan ekspresi tenang, seakan sudah sangat terbiasa.
"Tabuh kali ini yang kami mainkan benar-benar klasik karena sama sekali tidak ada perubahan sejak dulu diciptakan. Sebenarnya tabuh ini juga agak sulit untuk dicerna," jelas Togog.
Sejarah Perebutan Wilayah
TOGOG mengungkapkan, sesungguhnya kelahiran sekaa angklung ini dilatari sejarah yang panjang. "Dulu ada perebutan wilayah antara Gianyar dan Bangli."
Oleh karena terjadinya perselisihan antar raja kedua kabupaten itu, kemudian diciptakan tetabuhan angklung tersebut. Namun saat ditanya lebih jauh tentang latar berdirinya sekaa, Togog tidak bisa menjelaskan lebih mendalam karena ia juga kurang tahu bagaimana pastinya saat itu.
"Jadi, saya masih ingat, pertama ada reong, ceng-ceng, kempur. Nah, belakangan, mulai dikaitkan dengan upacara keagamaan sehingga ditambah melodi, gangsa, kentilan, gendang yang membuat perangkatnya jadi semakin pas."
Togog yang saat pementasan memainkan gangsa berdaun empat menekankan bahwa semua perangkat itu proses pembuatannya dilakukan di Pura Bukit Camplung, Sidan, Gianyar. Begitu pula apabila ada perangkat yang rusak, proses perbaikannya dilakukan di pura yang sama.
Meskipun belum pernah pentas hingga ke luar negeri, namun ternyata sekaa ini telah memiliki rekaman musik yang telah tersebar hingga ke Jepang, Belanda, dan Australia. (Tribun Bali Cetak)