Persona
Anom Darsana Menembus Dunia Sound Engineering dari Swiss
Sebagai sound engineer, Anom pernah menggarap beberapa festival musik ternama di Lausanne, seperti Festival Jazz Montreux, Festival Lausanne.
Laporan Wartawan Tribun Bali: Zaenal Nur Arifin
SEORANG pria berkaus abu-abu dengan rambut diikat sedang sibuk di depan laptopnya. Sesekali mengangkat handphonenya yang berdering. Dengan bahasa Prancis, ia berbicara dengan kliennya.
Pria itu, Anak Agung Ketut Anang Wijaya Darsana yang lebih dikenal dengan nama Anom Darsana, kelahiran Kesiman, Denpasar 31 Mei 1972.
Anom lama tinggal di Swiss menuntut ilmu dari bangku kuliah maupun kerja sampingan. Selepas tamat Sekolah Menengah Atas (SMA), Anom ikut orangtuanya yang bekerja di Swiss. Anom melanjutkan pendidikan di Swiss mengambil Jurusan Sastra Bahasa Prancis bagian linguistik atau kebahasaan di Universitas Lausanne, Swiss.
Setelah lulus kuliah selama tiga tahun, Anom harus kembali ke Indonesia. Karena, kepolisian dan imigrasi Swiss memberitahukan bahwa visa student-nya sudah habis. Padahal Anom masih ingin stay di negara pegunungan Alphen tersebut.
Anom kemudian ganti dengan visa kerja hingga tetap tinggal. Anom kemudian mencoba menawarkan diri untuk bekerja sebagai guru Bahasa Prancis. Namun, ditolak karena di Swiss hanya bisa menerima guru native untuk mengajar bidang itu.
Anom yang menyukai musik, kemudian berpaling ke dunia musik. Ia kemudian mendalami pendidikan musik, khususnya bidang sound engineer.
Dan memang, sound engineering merupakan salah satu passion Anom. Hobinya, memang tidak pernah jauh dari musik dan band. Akhirnya, di bidang ini Anom mendapatkan sejumlah job sambil kuliah.
Sebagai seorang sound engineer, Anom pernah menggarap beberapa festival musik ternama di Lausanne, seperti Festival Jazz Montreux, Festival Lausanne, dan berbagai gelaran live music performance.
Mulai dari situ, Anom lantas belajar untuk membuat studio rekaman. Studio rekaman kecil ia buat di tempat semacam ruangan bawah tanah di apartemennya waktu di Swiss.
Studio rekaman itu ia buka bagi siapa saja dari latar belakang genre musik apa pun, yang ingin merekam karya mereka. Di luar itu, Anom Darsana banyak terlibat dalam outdoor performance (live music).
Namun, beberapa kali ia juga pernah ikut menangani proyek teater, film, hingga televisi, sebagai sound engineer. Koneksi Anom sebagai sound engineer kemudian berkembang.
Selama 13 tahun menekuni dunia itu di Swiss dan menemukan sang istri, Tiziana, Anom kemudian memutuskan untuk mengembangkan keahliannya di Bali.
Tahun 2004 lalu, Anom kembali ke Bali. Anom mendirikan sebuah studio rekaman musik bernama 'Antida Recording Studio'. Nama Antida diambil dari gabungan nama Anom dengan istrinya, Anom-Tiziana Darsana.
Sementara, sang istri menggeluti dunia travel yang berjejaring ke Prancis dan Swiss. Peralatan audio yang ada di Antida merupakan peralatan yang ia miliki waktu di Swiss. Meskipun sedikit ribet membawanya ke Indonesia, tak masalah bagi Anom karena niatnya untuk mengembangkan di Bali.