Youngstar
Devita Mengasah Bermain Catur dengan Game
“Saya bermain Catur sejak TK, pertama kali mengikuti pertandingan saat kelas dua SD,” kata Devi.
Laporan Wartawan Bali: Robinson Gamar
SORE baru menunjukkan pukul 16.00 Wita saat Devita Noviantari, belia usia 16 tahun tiba di salah satu rumah makan di bilangan Jalan Merdeka Denpasar, Jumat (13/6) lalu.
Mengenakan celana panjang cokelat dengan baju yang juga dominan cokelat, Devi, demikian akrab disapa datang dengan diboncengi oleh sang ayah M Husni Abdullah. Rupanya Devi harus dijemput sang ayah dari asrama sekolah yang terletak Jalan Kargo, Denpasar Utara.
Setelah saling sapa, Devi bersama Tribun Bali kemudian mengambil tempat di salah satu lesehan warung. Devi kemudian menceritakan berbagai prestasinya di bidang olahraga Catur.
“Saya bermain Catur sejak TK, pertama kali mengikuti pertandingan saat kelas dua SD,” kata Devi mengenang saat memulai mengenal olahraga Catur.
Dengan dukungan sang ayah, Devi terus mengasah kemampuannya tanpa meninggalkan sekolah. Menjalani hobi sambil mengukir prestasi inilah yang membuat Devi makin cinta pada Catur.
Apalagi sampai membawanya ikut bertanding di tingkat nasional. Tercatat berbagai kejuaraan baik tingkat lokal maupun nasional telah diraih Devi.
Sebut saja juara satu Catur dalam pekan olahraga pelajar (Porjar) Kota Denpasar tahun 2014, Juara 1 Porjar Bali tahun 2014, Juara 2 Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) tahun 2013 untuk kategori Catur standar putri beregu.
Sedangkan di tingkat nasional, Juara 3 ajang O2SN di Jakarta saat masih SMP kelas 1 tahun 2010 dan Juara 3 ajang O2SN di Jakarta saat SMP kelas 2 tahun 2011.
Bukan hanya kebanggaan karena meraih prestasi, Devi juga bisa menabung dari hadiah yang diperoleh. Bahkan, dengan prestasi di bidang Catur, Devi mendapat beasiswa selama lima tahun dari salah satu lembaga di Australia.
“Lumayan buat bantu-bantu biaya pendidikan,” kata Devi.
Walau saat ini Devi harus tinggal di asrama karena aturan lembaga pendidikan tempatnya sekolah, tapi tidak mengurangi semangatnya terus belajar Catur. Devi memanfaatkan teknologi yang ada untuk terus mengasah kemampuan.
Caranya dengan belajar main Catur melalui game-game yang programnya didownoad ke Ipad. Tidak itu saja, Devi memanfaatkan fasilitas internet untuk bertanding Catur dengan pecinta Catur di dunia maya, termasuk pemain-pemain dari luar negeri.
Sebagai anak muda, Devi mengaku memang tak suka nongkrong. Tiap dua minggu biasanya Devi keluar dari asrama. Itupun dimanfaatkannya untuk mengunjungi keluarga.
“Saya tidak suka nongkrong. Kalau ada kesempatan, ya mengunjungi orangtua atau keluarga yang lain,” kata siswa kelas tiga SMK Kesehatan Bali Medika, Denpasar ini. (rob)