YOUNGSTAR
Pendiri Moya Liarkan Imajinasinya
Karya-karya desainer muda Bali, Asmara Dwiba
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN BALI.COM-DENPASAR - Ffashionable Bukan Berarti Glamor dan Indentik Serba Mewah
BERANJAK remaja, Asmara Dwiba memilih jadi siswi di SMAN 4 Denpasar.
Cewek yang akrab disapa Asa ini mulai mencoba usaha kecil-kecilan berlabel "Moya".
Anak kedua dari lima bersaudara itu, menerima pesanan dari kawan-kawannya, baik hanya berupa sket rancangan baju maupun sampai hasil jadinya.
Pendirian usaha Moya, berawal dari tantangan yang ditawarkan ibunya. Asa diminta untuk merancang sejumlah baju dan langsung memprodukasinya.
Hasil tersebut kemudian dipamerkan dan dijual pada stand di Jalan Sudirman. "Lumayan juga waktu itu laku sekitar 20 biji," ungkapnya.
Putri pengusaha Ismoyo Sugiarto Soemarlan itu mengatakan, rancangan yang dibuatnya cenderung mengikuti trend anak-anak muda.
Sementara ibunya lebih banyak memproduksi pakaian seragam untuk sekolah, perkantoran dan perhotelan.
"Saya buat yang lebih fleksibel dan luwes. Ya, young style-lah," ucap gadis penyuka karya desainer-desainer dari Prancis, Italia, dan London.
Pernah suatu hari ia menyaksikan sebuah perhelatan fashion show yang menurunya begitu memukau. Dalam peragaan busana itu, seorang model mengenakan topi dan pakaian mengembang.
Namun, tiba-tiba saja saat berjalan di atas panggung pakaian sang model terangkat ke atas, seperti tertarik oleh topinya.
"Triknya luar biasa sekali. Selalu ada magic-nya, sampai-sampai modelnya naked," kata Asa seraya tertawa.
Bagi Asa, fashion seperti seni dalam berpenampilan. Sejak kecil, bahkan ia sudah terbiasa memperhitungkan pakaian-pakaian yang ia kenakan.
"Pakaian itu kan untuk menutupi tubuh. Ya, bagaimana agar eye-catching dan bisa menginspirasi orang-orang," tambahnya.
Lanjutnya, fashionable bukan berarti glamor yang indentik dengan barang serba mewah. "Simpel saja sebenarnya, yang penting elegan dan tahu bagaimana memadukan warna yang tepat," tandasnya.
Tidak seperti umumnya desainer muda Bali yang kini banyak menonjolkan budaya lokal seperti memadupadankan endek dan batik, dalam karya Asa justru sama sekali tidak nampak adanya nuansa etnik.