GRIYA STYLE

Pasang Kepala Rusa untuk Simbol Kejantanan

Suasana kampung halaman di rumah I Wayan Kastawan dosen Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Unud

Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Rizki Laelani
Pasang Kepala Rusa untuk Simbol Kejantanan - 2_3008-FT_2----.JPG
TRIBUN BALI/I NYOMAN MAHAYASA
Pasang Kepala Rusa untuk Simbol Kejantanan - sasa_(2).JPG
TRIBUN BALI/I NYOMAN MAHAYASA
Pasang Kepala Rusa untuk Simbol Kejantanan - sasa_(5).JPG
TRIBUN BALI/I NYOMAN MAHAYASA

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Untuk memberi sentuhan berbeda dan terkesan hippies, I Wayan Kastawan bahkan tidak tanggung-tanggung memasang kepala rusa di bagian atas pintu utama menuju ruang keluarganya.

"Ini kepala rusa asli Sumbawa. Sudah diformalin dan diawetkan. Mata, tanduk, dan semuanya orisinal. Saya suka karena memberi kesan sebuah perburuan," terangnya.

Ketika ditanya apakah benda itu memiliki arti atau simbol tertentu, Kastawan kembali tertawa.

"Sebenarnya tidak ada pemaknaan khusus. Nah, kalau lumbung itu kan menunjukan hasil alam, ada padi, agraris, jadi pas, kepala rusa ini seperti kita sedang berburu, masa pemburuan."

Ia juga tidak meniatkan pemasangan kepala rusa itu sebagai simbol kejantanan yang menjadi penjaga rumah ataupun keluarganya.

"Selain itu Lombok dan Sumbawa kan dekat," imbuhnya. Kepala rusa itu dipadukan dengan pintu khas Jawa Timur yang dibelinya dari sebuah toko di Jalan By Pass Ngurah Rai.

Awalnya pintu itu bentuk dan warnanya seperti barang kuno. Kemudian ia beri pelapis, namun pada bagian teratas ia biarkan alami, guna menyisakan kesan antiknya.

Tidak hanya berhenti di sana, di bagian dalam rumah, Kastawan juga memajang benda kuno, seperti pompa air yang sudah lama ditinggalkan.

Ia meletakkan pompa itu di dekat kolam yang mengelilingi sanggah (pura keluarga).

"Ya, benda itu bersejarah. Jadi biar ada kenang-kenangan. Sebenarnya masih bisa dipakai, dan sangat bermanfaat," tuturnya.

Tak jauh dari sana, tampak sebuah benda berukuran sekitar 1x1 m, menyerupai pintu atau jendela yang dipajang di dinding.

"Ini asalnya dari Jawa, seperti partisi rumah Joglo. Ada orang yang mengantar ke sini karena diketahui saya suka barang antik," ucapnya.

Pajangan dinding itu ia bersihkan dan di-whitewash. "Saya suka barang ini, sepertinya punya cerita, ada nilai dan ukiran-ukirannya tidak biasa," tambahnya.

Ukiran benda itu seperti sebuah relief, di sana terdapat gambar ikan, manusia, dan beberapa di antaranya tak berbentuk.

"Ini pasti benda lama, tapi saya tidak tahu sebenarnya dipakai untuk apa. Saya punya satu pasang," jelas Kastawan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved