Penyandang Tuna Runggu Bali Minta Jokowi Sahkan Bisindo
Peringatan Hari Tuna Rungu Sedunia
Penulis: Niken Wresthi KM | Editor: Iman Suryanto
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Matahari belum begitu terik ketika iring-iringan barisan berisi puluhan orang mulai berjalan kaki mengitari Lapangan Puputan Renon, Minggu (5/10/2014) pagi.
Hampir tak terdengar suara lain kecuali derap sepatu dan penggalan gelak tawa dari iringan yang membawa spanduk lebar bertuliskan “Peringatan Hari Tuna Rungu Internasional” ini.
Meski berlangsung cukup sunyi, aksi ini mampu mencuri perhatian beberapa orang. Bahkan beberapa pengunjung rela menghentikan sejenak kegiatan mereka demi memusatkan perhatian pada iring-iringan ini.
“Oh, tunarungu. Kirain apa tadi rame-rame, demo tapi kok diem-diem an,” celetuk salah seorang petugas keamanan setelah membaca sekilas tulisan yang tertera pada spanduk.
Aksi ini memang diselenggarakan atas gabungan tiga kelompok penyandang tunarungu, yakni Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Bali, Gerkatin Denpasar dan komunitas pemuda penyandang tunarungu Bali Deaf Community (BDC).
“Aksi jalan santai ini diadakan tiga kelompok, Gerkatin Bali, Gerkatin Denpasar dan BDC sendiri,” tutur Gede Ade Putra Wirawan, pendiri BDC sekaligus penyandang tunarungu yang telah lancar berkomunikasi melalui pelafalan artikulasi verbal.
Pria yang akrab disapa Ade ini bertutur, gabungan penyandang tuna rungu Bali ini juga ingin menyatakan sikap melalui aksi jalan santai ini.
Pertama, menolak diskriminasi dalam perguruan tinggi. Ade berharap penyandang tuna rungu atau difabel lain memiliki hak yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi.
Selain itu, aksi ini juga merupakan pernyataan sikap meminta presiden terpilih Jokowi untuk mengesahkan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo).
“Ada dua bahasa isyarat, yaitu Bisindo dan Sistem Isyarat bahasa Indonesia (SIBI). Hanya SIBI yang diakui secara sah sebagai bahasa isyarat untuk tuna rungu di Indonesia. SIBI juga yang biasa diajarkan di sekolah-sekolah seperti di SLB. Padahal, di luar sekolah, kami (penyandang tunarungu, Red) lebih mudah memahami Bisindo,” papar Ade sambil sesekali menuliskan kalimat yang tak mudah ia lafalkan di atas secarik kertas.
Ada beberapa isyarat dalam SIBI yang menurut Ade tidak mudah dipahami terutama oleh penyandang tunarungu. Seperti misalnya huruf A.
Dalam SIBI alfabet A disampaikan melalui kepalan tangan. Sementara dalam Bisindo, huruf pertama alfabet ini diwakili oleh formasi segitiga yang dibentuk oleh ibu jari dan telunjuk kanan dan kiri. Representasi bangun segitiga ini, lanjut Ade, lebih menyerupai bentuk huruf A daripada kepalan tangan.
Kesulitan terjadi pula dalam mengomunikasikan frase ‘bersatu’. Ade memeragakan isyarat ‘bersatu’ ala SIBI dengan memosisikan telunjuk dan jari tengah kirinya secara horizontal.
Dengan cepat ia benturkan perlahan kedua jari itu ke telapak kanannya, kemudian ia angkat telunjuk kirinya ke udara, seperti angka satu.
Ade bertutur isyarat ini mungkin mudah dimengerti oleh kaum mendengar. Namun, Ade dan kawan-kawan penyandang tunarungu merasa kesulitan memahami isyarat ini.
“Kami lebih mudah memahami kata ‘bersatu’ seperti ini,” tutur Ade sambil menelungkupkan tangan kanannya hingga menyelimuti kepalan tangan kiri, lalu mendorong kedua tangannya ke depan dada. Isyarat ini pula yang digunakan untuk menunjukkan kata kerja abstrak ‘bersatu’ versi Bisindo.
Pria yang pernah meraih penghargaan Mister Deaf Asia dan Mister Deaf Congenial dalam ajang Miss and Mister Deaf International (MMDI) di Turki 2012 lalu ini berujar, penyandang tunarungu ingin berkomunikasi dengan kaum mendengar dalam cara yang lebih mudah. Penggunaan Bisindo, lanjutnya, dirasa lebih mengakomodasi kemudahan berkomunikasi ini daripada SIBI.)(*)