Simpang Ring Banjar
Pura Griya Sakti Manuaba, Simbol Sukacita Lepas dari Bencana Kekeringan
Pura Griya Sakti Manuaba, Banjar Tangkas, Desa Kendran, merupakan bentuk rasa sukacita dan rasa bhakti warga atas bantuan Danghyang Nirartha.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: imam hidayat

TRIBUN-BALI.com - Menurut Jro Mangku Griya Sakti Manuaba, I Nyoman Sibang, Pura Griya Sakti Manuaba adalah bentuk rasa sukacita dan rasa bakti warga Desa Kendran atas bantuan putra keempat Danghyang Nirartha, yakni Peranda Ketut Ler atau Peranda Sakti Ketut Buruan.
"Saat daerah ini kekeringan, banyak hal buruk terjadi. Warga mendapat pawisik agar meminta bantuan Peranda Ketut Ler yang saat itu berstana di Klungkung. Setelah Ida ke sini, dibuatkanlah bendungan. Warga pun terhindar dari segala penderitaan," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Jumat (17/10).
Hari silih berganti. Peranda Ketut Ler melakukan pertapaan di bawah pohon beringin di kawasan Banjar Tangkas. Setelah beliau moksa, di tempat bertapanya ada lempengan perunggu dan tombak. Namun ada juga yang mengatakan benda itu adalah galih (tulang) Ida.
"Saat ini wilayah Ida moksa dibuatkan pura yang disebut Pura Griya Sakti. Benda yang ditinggalkan itu disimpan di gedong suci. Setiap odalan, benda itu diwangsuh (cuci) di bendungan Buka dan Dama Keling yang Ida buat dulu. Air yang digunakan mewangsuh benda itu digunakan sebagai tirta umat usai bersembahyang di pura ini," ungkapnya.
Kelian Dinas Banjar Tangkas, I Ketut Dana mengatakan Pura Griya Sakti diamong oleh tujuh banjar yang ada di Desa Kendran. Satu di antaranya adalah Banjar Tangkas. Saat odalan yang jatuhnya setiap Anggara Kasih Medangsia, tujuh banjar ini dibagi menjadi tiga kelompok.Setiap kelompok secara bergiliran bertanggung jawab atas odalan.
"Banjar kami berkelompok dengan Banjar Pande. Saat mendapatkan giliran bertanggung jawab atas ritual keagamaan yang berlangsung di pura ini, warga banjar lain hanya datang sembahyang," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Jumat (17/10).
Karena Pura Griya Sakti merupakan Pura Kahyangan Jagad, yang datang bersembahyang saat odalan tidak hanya warga setempat. Tapi semua umat Hindu di Bali.
"Krama membutuhkan tambahan tenaga untuk menjaga parkir. Karena itu, STT pun selalu dilibatkan. Kalau tidak, bisa kewalahan kami," ujarnya sembari bersender di tiang bangunan bale dangin. (*)