Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Mahasiswa Unud Pamerkan Karya di DTIK Festival

Adinata menjelaskan pengembangan robot terbang ini, baru diriset pada enam bulan lalu yang digarap oleh dosen dan mahasiswa.

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: imam hidayat

TRIBUN-BALI.com, DENPASAR – I Putu Adianata Mas Pratama bersemangat sekali menerangkan tentang quadcopter, robot terbang yang dipajang di stan Teknik Elektro, Universitas Udayana (Unud) pada Pamaren Denpasar Teknologi, Informasi dan Komunikasi (DTIK), di Lapangan Lumintang, Kamis (30/10). Robot rakitan dosen dan mahasiswa Program Studi, Teknik Elektro, Unud ini diciptakan guna membantu pemantauan atau penelitian lapangan.

“Biasanya digunakan untuk memantau lalu lintas atau even penting yang jangkauannya cukup luas,” ujarnya.

Mahasiswa semester tujuh ini dengan fasih menjelaskan spesifikasi quadcopter tersebut. Mulai dari komponen, motor brushless sebanyak empat biji sebagai penggerak.

Flight controller berfungsi mengatur keseimbangan dari keempat baling-baling agar tetap stabil walaupun diterjang angin,” ujar mahasiswa asal Gianyar ini.

Adinata menjelaskan pengembangan robot terbang ini, baru diriset pada enam bulan lalu yang digarap oleh dosen dan mahasiswa.

“Jadi tujuannya bisa memantau dari atas, jarak jauh dan memantau bencana, misalkan kayak even APEC kemarin,” ujarnya.

Pria yang hobi membuat robot ini mengatakan, quadcopter dengan empat baling-baling tersebut bisa terbang sampai ketinggian 20 meter. Namun ada juga robot dengan enam dan delapan baling-baling yang bisa terbang lebih tinggi dan menampung beban lebih besar.

“Bebannya adalah kamera yang dipasangkan dibadan quadcopter,” tambahnya.

Kendala terberat, yang dialami oleh mahasiswa dan dosen ketika menerbangkan alat ini terletak pada zero moment point (titik nol) di antara keempat baling-baling. Sebab dengan pembuatan manual, ketepatan titik nol ini sangat penting didapatkan. Selain itu, bahan yang cukup susah dibeli dari Surabaya.

“Bahan paling sulit didapatkan adalah flight controller yang berkisar di Rp 700 ribu. Ini belinya di Surabaya,” katanya. Untuk satu unit quadcopter, menghabiskan dana sebanyak Rp 9 juta, sudah include kamera.

Selain quadcopter, stan ini juga memajang sollarcell tracker atau pembangkit tenaga surya ukuran kecil. Adinata mengatakan, alat Ini bisa mendeteksi intensitas cahaya terbesar, guna memaksimalkan cahaya matahari yang diterima.

“Jadi alat ini mengubah energi matahari menjadi energi listrik dan bisa menghidupkan lampu sebesar 5 watt,” katanya.

Dengan sistem kerja disimpan di dalam Aki. Spesifikasi alat ini, dilengkapi sembilan buah sensor cahaya, dua dinamo guna menggerakkan alat 360 derajat, satu panel solar sel untuk menangkap sinar matahari dan controller yang menggunakan sistem minimal AT Mega 250.

“Proses perakitan dilakukan selama lima bulan, sementara untuk bahan termahal adalah solar sel panel seharga Rp 200 ribu, yang didatangkan dari Bandung,” ungkapnya. Semakin banyak solar sel yang terpasang, maka semakin banyak juga bisa menampung energi cahaya menjadi energi listrik.

Adinata mengatakan, terobosan terbaru yang dibuat oleh PS Teknik Elektro ini adalah Augmented Reality. Rekan Adinata, I Made Arya Budhana mengatakan, terobosan ini adalah buatan seorang mahasiswa angkatan 2010 sebagai tugas akhirnya (TA).

“Jadi ada software yang bisa menunjukkan prsentasi 3D (3 dimensi) dalam kertas kosong, yang diberikan marker khusus,” kata mahasiswa semester lima ini.

Lanjutnya, sambil menunjukkan kertas kosong dengan marker lambang Teknik Elektro, di web kamera laptop yang sudah berisi software terlihat di cahaya dari proyektor bagaimana desaign 3D yang ada di dalam kertas itu. Keunikan ini,  juga diterapkan dalam film Iron Man dengan hologram dan teknologi yang lebih canggih. (ask)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved