Beauty
Fokus Melayani Pernikahan, Jadi Langganan Ibu-ibu Pejabat.
Rata-rata untuk pengantin Bali rias Payas Agung, kisaran Rp 3 jutaan ke atas. Booking paling lama bisa lima bulan sebelumnya.
Penulis: Ida A M Sadnyari | Editor: Rizki Laelani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tata rias kecantikan sudah mendarah daging dalam diri Tut De sehingga profesionalitasnya benar-benar dipertaruhkan dalam bidang yang menjadi sumber penghidupannya itu.
"Saya memasuki dunia kecantikan sejak 1995, ketertarikan untuk mendalaminya sebenarnya sudah ada sejak 1992 ketika saya tamat SMA. Namun karena situasi ekonomi, saya memilih bekerja terlebih dahulu mengumpulkan uang selanjutnya tiga tahun setelah tamat sekolah baru mengikuti kursus kecantikan," ujarnya.
Selama tiga tahun kursus dan mendalami praktiknya melalui bekerja di salon, dia sudah bisa melakukan perawatan kecantikan mulai dari penataan rambut, potong rambut, creambath, facial maupun make up.
Sejak mulai kursus, Tut De aktif mengikuti setiap perlombaan rias pengantin. Pertama kali ikut lomba mendapatkan juara III rias pengantin pada 1998, setelah itu sejak tahun 2000 selalu menjadi juara I.
Di tingkat nasional, dia sudah empat kali juara I nasional. Bahkan dua kali mendapatkan museum rekor Indonesia (MURI) tingkat nasional dalam merias pengantin.
Total Tut De sudah 14 kali meraih juara I dalam lomba rias pengantin baik lokal maupun nasional.
Tak jarang, di tingkat nasional dia mengharumkan nama Bali karena prestasinya tersebut selalau menjadi nomor satu.
Kemudian, pada 2000, dia mulai membuka salon sendiri khusus melayani wedding dengan berbagai pengalaman.
"Fokus ke wedding karena di sana saya melihat peluang income yang lebih besar ketimbang perawatan. Pasaran di wedding juga tidak akan pernah berhenti karena selalu ada regenerasi, sehingga pernikahan akan pasti selalu ada. Itu momen satu kali dalam hidup, mereka pasti ingin riasan yang bagus dan tidak salah pilih perias," katanya.
Apa yang sudah diraih saat ini tidak lantas membuatnya besar kepala. Tut De mengaku masih ingin belajar dan belajar.
Dunia wedding juga selalu ada perubahan atau perkembangan terutama dalam hal makeup dan kostum.
"Kita juga harus mengikuti zaman supaya tidak ditinggalkan customer. Namun, dalam berbisnis wedding yang perlu diperhatikan adalah profesional kerja. Artinya, siapa yang duluan booking, itu yang harus dilayani. Selain itu juga harus on time," jelasnya.
Dengan pengalamannya hampir 15 tahun membuka salon sendiri, Tut De mengaku menjadi langganan ibu-ibu pejabat.
"Saya seringkali merias pejabat, termasuk menteri. Artis juga banyak. Kalau klien tidak hanya di Bali tapi juga banyak dari luar kota terutamanya dari Jakarta," ujarnya.
Dia menambahkan, tren ramainya pesanan untuk merias terjadi sebulan sebelum Galungan dan sebulan setelah Galungan untuk pengantin Bali.