Art and Culture
Foto dan Kisah I Ketut Lanus, Seniman yang Mengangkat Sosok Perempuan Bali
Lanus merangkul anak-anak muda Bali untuk terus menciptakan karya sekaligus mempertahankan tradisi
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Agung Yulianto
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Ketut Sudiani
BERSAMA belasan pemuda Bali, I Ketut Lanus SSn terlihat asik memainkan gendang di Sanggar Cahaya Art, di bilangan Jalan Nusa Indah, Denpasar, awal pekan lalu. Seraya mengepakkan telapak tangannya, komposer, musisi, sekaligus penari ini mengarahkan pemain kendang yang lain.
Saat latihan berhenti sejenak, pria berusia 44 tahun ini memberikan arahan, terutama tempo permainan yang harus diperhatikan dan dijaga para penabuh. Sesekali dia memberi tanda tertentu, agar para pemain lebih mudah menyelaraskan instrumen masing-masing.
Selama lebih dari 10 tahun, di sanggar yang didirikannya itu Lanus merangkul anak-anak muda Bali untuk terus menciptakan karya sekaligus mempertahankan tradisi yang ada.
Dari sana juga lahir karya-karya tari kreasi, kolaborasi, dan komposisi musiknya. Seniman kelahiran Mengwi ini terus meramu berbagai ide kreatif menjadi pertunjukkan yang inovatif, tetapi tetap berpegang pada tradisi.
Pada Oktober lalu, Lanus menciptakan karya terkininya, pertunjukan Walistri, sebuah seni kreasi yang mengangkat tentang sosok dan peranan perempuan.
Menurutnya, nama Walistri mengandung makna persembahan yang khusus ditujukan untuk perempuan, figur yang dikenal lemah lembut, tetapi dinamis.
"Ide itu lahir karena selama ini saya melihat peranan seorang perempuan itu sangat banyak. Mereka bisa sebagai pemimpin sekaligus pengayom. Selain sebagai ibunya anak-anak, juga ada tanggung jawab lainnya," kata Lanus.
Dia juga memandang seorang perempuan Bali juga setidaknya dituntut aktif dalam berbagai kegiatan adat. Pada saat bersamaan, diharapkan bisa mengikuti modernisasi, baik melalui penampilan maupun kedalaman wawasan.
"Saya dan tim kemudian membuat tari. Gerakannya semua dirancang agar mampu mewakili dan menyimbolkan konsep perempuan tadi. Kadang lembut, tetapi seketika berubah menjadi begitu dinamis untuk menunjukkan betapa cekatannya mereka," ujarnya.
Saat merancang konsep itu, Lanus yang pernah pentas dalam acara menuju World Cultural Forum II, berpegang pula pada kisah-kisah Mahabharata seperti Drupadi, juga perjuangan RA Kartini.
Dia selalu melibatkan semua timnya termasuk para penari dan pemain musik untuk kemungkinan merealisasikan gagasannya itu. Selain itu dia juga memberikan kesempatan timnya untuk berkreasi.
"Musik dan gerak tari harus seirama. Musik itu sendiri sudah harus ngigel (nari). Dia harus sesuai, sampai bagian terkecil seperti ngenjek," katanya.
Lanus juga berkonsultasi dengan penata tari dan penarinya, untuk mempertimbangkan berbagai hal sematang mungkin. "Biasanya kalau ada ide, kami ciptakan tariannya terlebih dahulu, kadang juga musiknya. Yang penting konsepnya yang matang. Hal ini penting untuk menghindari energi yang terbuang, setidaknya diminimalisir," ujarnya yang pernah pentas di sejumlah negara di Eropa.
Bersama sanggarnya, Lanus pernah menampilkan karya-karyanya di sejumlah tempat di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.